Karawang – PT Asia Pacific Fibers Tbk (POLY), salah satu produsen kimia dan serat tekstil terbesar di Indonesia, resmi menutup operasional pabriknya di Karawang, Jawa Barat, setelah lebih dari enam bulan tidak berproduksi. Keputusan ini diambil karena pabrik dinilai tidak lagi layak secara teknis maupun komersial.
Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (10/8), manajemen POLY menyebutkan penutupan ini disebabkan tekanan berat dari kondisi bisnis global dan domestik. Faktor eksternal yang memengaruhi antara lain kelebihan kapasitas industri tekstil dunia, kenaikan tarif ekspor ke Amerika Serikat dan lonjakan harga bahan baku. Sementara itu, di dalam negeri, ketidakjelasan penerapan bea anti-dumping dan revisi peraturan importasi juga menjadi hambatan signifikan.
"Lingkungan bisnis Perseroan saat ini, baik luar negeri kelebihan kapasitas global, kenaikan tarif ekspor ke USA, kenaikan harga bahan baku maupun dalam negeri ketidakjelasan penerapan bea anti-dumping, revisi peraturan importasi yang belum sesuai harapan industri, telah menyebabkan lesunya permintaan produk industri," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi.
POLY sebelumnya mempertimbangkan untuk mengaktifkan kembali pabrik Karawang, namun tingginya biaya pemeliharaan tanpa aktivitas produksi membuat opsi tersebut tidak realistis. Perusahaan kini memusatkan operasional di pabrik Kaliwungu, Kendal, serta merevisi proyeksi bisnis dan keuangan untuk tahun-tahun mendatang.
"Oleh karena itu, perusahaan akan mendeklarasikan penutupan permanen unit produksi ini dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk merevisi proyeksi bisnisnya berdasarkan operasi pabrik Kaliwungu-Kendal di masa mendatang," ujar manajemen.
Penutupan pabrik Karawang diperkirakan akan menurunkan pendapatan penjualan tahunan POLY mulai 2025 dan seterusnya. Sebelumnya, perusahaan tetap menjaga fasilitas tersebut agar bisa dioperasikan kembali jika ada solusi yang memungkinkan. Namun, setelah lebih dari enam bulan tidak beroperasi, biaya pemeliharaan dinilai terlalu tinggi dan tidak layak secara teknis maupun komersial. (man/gab/fir)
Editor : M Firman Syah