SURABAYA - Sektor properti sempat goyang. Penyebabnya adalah harga bahan bangunan dan bahan bakar yang meningkat. Kondisi itu tidak berdampak pada pasar rumah premium di Surabaya.
Harga jual rumah premium pun sempat terkoreksi. Penyebabnya selain luas tanah, bahan bangunan pun merangkak naik. Angkanya naik sekitar 15 persen. "Biaya bangunan yang naik itu ada pengaruh dari kenaikan harga BBM. Selain itu, ada beberapa penunjang fasilitas. Itu masuk ke dalam penawaran tiap developer," ujar Praktisi Properti Yohanes Sukiman kepada Radar Surabaya, Selasa (27/6).
Dia menyebutkan, kawasan perumahan di Surabaya Barat permintaannya hunian cukup tinggi. Terdapat tujuh klaster dengan total 1,6 ribu unit dan tingkat okupansinya sekitar 1.000 unit. "Tapi dari total luas lahan, yang terpakai masih sekitar 100 hektare," katanya.
Yohanes menuturkan, tren rumah premium tengah naik daun. Banyak proyek senilai Rp 2 miliar mendapat respons positif. Penjualan hunian kelas ini cukup meroket. “Pasar properti di segmen end user sebelumnya yang lebih cepat bergerak yang di segmen harga di bawah Rp 1 miliar, tapi dalam beberapa bulan terakhir tren permintaan harga rumah mulai naik di segmen Rp 2 miliar,” paparnya.
Dia mencatat tren penjualan pengembang di Surabaya. Katanya, hunian dengan harga hingga Rp 5 miliar pun diminati. Capaian penjualannya telah mencapai 90 persen. "Itu total dari beberapa jenis kelas rumah antara Rp 1,8 miliar hingga Rp 5 miliar," imbuhnya.
Sementara itu, rencana redenominasi rupiah kembali mencuat. Wacana pemerintah sejak 2013 silam keluar dari Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Wariyo. Pengamat properti menilai redenominasi rupiah bakal berimbas pada sektor properti.
Pengurus Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jatim Bidang Real Estate, Rudy Sutanto mengatakan, pemerintah tengah mematangkan rencana itu. Dia menilai, kondisi ekonomi nasional terus membaik. Selain itu, pemerintah mampu mempertahankan nilai inflasi. "Sampai sekarang tingkat inflasi nasional cukup rendah," ujarnya.
Dia menjabarkan, redenominasi adalah penyederhanaan nilai mata uang tanpa mengurangi nilai tukar mata uang tersebut. Tujuannya adalah efisiensi. Selain itu, membuat mata uang semakin berdaulat. "Aktivitas ekonomi dan transaksi lebih cepat. Harga barang atau jasa lebih praktis," ungkapnya.
Rudy memproyeksi kebijakan ini bakal berdampak pada sektor properti. Redenominasi mengerek tren penjualan. Karena terjadi perubahan psikologis konsumen. "Meski tidak langsung, tapi secara perlahan bakal terjadi perubahan itu. Contohnya, dulu gadget harga Rp 10 juta jadi Rp 10 ribu, seolah-olah nilainya kecil," ungkapnya.
Menurutnya, banyak orang bakal berinvestasi sektor properti. Karena aset ini memiliki harga yang cukup stabil. Selain itu, redenominasi ini menjadi penanda situasi ekonomi. "Jika penerapan redenominasi ini timing-nya enggak pas justru menimbulkan inflasi hingga hiperinflasi. Sedangkan, sebelumnya sudah banyak investor yang telah membeli properti. Otomatis harganya nanti terkoreksi," pungkasnya. (hil/nur)
Editor : Jay Wijayanto