Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tips Mengelola Keuangan agar Tidak Boros Saat Lebaran

N
Penulis: Nofilawati Anisa❯
PERENCANAAN: Peningkatan konsumsi menjelang hari besar seperti Lebaran merupakan hal yang wajar karena masyarakat menjalankan berbagai aktivitas yang tidak terjadi pada hari-hari biasa. (FREEPIK)
PERENCANAAN: Peningkatan konsumsi menjelang hari besar seperti Lebaran merupakan hal yang wajar karena masyarakat menjalankan berbagai aktivitas yang tidak terjadi pada hari-hari biasa. (FREEPIK)

Advertisement

RADAR SURABAYA - Masyarakat biasanya meningkatkan konsumsi menjelang Hari Raya Idulfitri. 

Mereka membeli berbagai kebutuhan seperti pakaian baru, kue kering, hingga perlengkapan mudik untuk menyambut momen kebersamaan dengan keluarga. 

Advertisement

Berbagai tradisi seperti halal bihalal, reuni, hingga silaturahmi keluarga besar juga mendorong masyarakat mengeluarkan lebih banyak pengeluaran dibandingkan hari biasa.

Menanggapi fenomena tersebut, Pakar Ekonomi Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. Tika Widiastuti, SE., MSi menilai bahwa peningkatan konsumsi menjelang hari besar merupakan hal yang wajar karena masyarakat menjalankan berbagai aktivitas yang tidak terjadi pada hari-hari biasa.

Menurut Tika, berbagai aktivitas khas hari raya seperti mudik, halal bihalal, hingga reuni keluarga membuat masyarakat mengeluarkan lebih banyak biaya daripada hari biasa. 

Kegiatan tersebut sering kali mendorong peningkatan konsumsi, khususnya pada kebutuhan seperti pakaian baru, kue kering, hingga menyiapkan berbagai suguhan untuk tamu.

“Konsumsi tidak selalu bersifat konsumtif. Kalau dari perspektif ekonomi, perilaku konsumtif terjadi ketika seseorang membeli sesuatu bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan keinginan. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh tren, keinginan untuk meningkatkan status sosial, atau sekadar mengikuti ajakan lingkungan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Tika menyebut bahwa salah satu kesalahan finansial yang sering terjadi menjelang hari besar seperti hari raya, yakni tidak memprioritaskan kebutuhan utama. 

Dalam praktiknya, masyarakat sering kali langsung memenuhi kebutuhan tanpa adanya prioritas kebutuhan utama. 

“Kalau di ekonomi islam, kebutuhan terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu dharuriyah (kebutuhan pokok), hajiyah (kebutuhan penunjang), dan tahsiniyah (kebutuhan pelengkap). Kesalahannya itu adalah cenderung pada pemenuhan atau pemuasan keinginan karena yang disebut keinginan itu apabila itu dipenuhi sebenarnya biaya yang dikeluarkan itu tidak sebanding dengan benefitnya,” imbuhnya.

Advertisement

Artikel Terkait

Perjalanan Makin Nyaman dengan Mitsubishi Destinator

Perjalanan Makin Nyaman dengan Mitsubishi Destinator

Kenyamanan kabin, kelengkapan fitur keselamatan, ruang penyimpanan, hingga kemampuan kendaraan menghadapi beragam kondisi jalan menjadi faktor penting yang menentukan kualitas perjalanan bersama keluarga.

Ini Pilihan Harga Hyundai STARGAZER Cartenz untuk Mobilitas Keluarga di Jalanan Surabaya 

Ini Pilihan Harga Hyundai STARGAZER Cartenz untuk Mobilitas Keluarga di Jalanan Surabaya 

Bagi keluarga yang mengandalkan mobil untuk mobilitas sehari-hari, efisiensi pengeluaran menjadi salah satu pertimbangan penting dalam memilih kendaraan.

Mencari SUV Nyaman untuk Perjalanan Jauh? Mitsubishi Destinator Jawab Kebutuhan Keluarga Jawa Timur

Mencari SUV Nyaman untuk Perjalanan Jauh? Mitsubishi Destinator Jawab Kebutuhan Keluarga Jawa Timur

Mitsubishi Destinator mengusung desain SUV modern dengan karakter Dynamic Shield khas Mitsubishi Motors, menghadirkan perpaduan kesan kokoh dan dinamis untuk mendukung gaya hidup keluarga

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer