25 C
Surabaya
Sunday, June 11, 2023

JULEHA JATIM: Hanya 16 dari 202 RPH di Jatim yang Kantongi Sertifikasi Halal

SURABAYA – Dari 202 Rumah Potong Hewan (RPH) di Jawa Timur, hanya 16 RPH yang memiliki sertifikasi halal. Bahkan penyembelihan unggas di Jawa Timur dinilai tidak sesuai syariat Islam.

Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Juru Sembelih Halal (Juleha) Indonesia Jawa Timur, Imam Fauzi, usai Forum Percepatan Industri Halal Jawa Timur di Gedung Islamic Center Surabaya, Rabu (24/5).

Imam menambahkan sebuah penelitian Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Tahun 2019 menunjukkan 80 persen unggas yang dipotong di RPH tidak sesuai syariat Islam. “Bahkan di sebuah daerah di Jatim ada 1 orang menyembelih 1 ton dalam 1 malam. Juru sembelih ini mengakui kalau hasil sembelihannya tidak sesuai syariat Islam,” jelasnya.

Hanya saja menurut Imam, masyarakat tidak jeli melihat hewan yang sudah disembelih tersebut halal atau haram. Yang diperhatikan masyarakat kebanyakan adalah harga mahal atau murah. “Yang penting harga murah, mau halal atau haram diabaikan,” katanya.

Baca Juga :  BNI Perkuat Mobile Banking dengan Tambahan Fitur Unggulan
Ketua DPW Juleha Indonesia Jatim Imam Fauzi. (ISTIMEWA)

Imam mengatakan jumlah Juleha di Jatim yang terdaftar di Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (ARPHUIN) sebanyak 313 orang, namun yang bersertifikasi halal baru 46 orang. “Kami terus melakukan pendampingan di seluruh masjid di Jatim yang nantinya akan melakukan sertifikasi terhadap Juleha agar memahami halal dan haram,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Menurutnya penyebab kasus narkoba dan kelahiran bayi yang tidak diinginkan adalah karena kehalalan makanan yang dikonsumsi.

“Padahal masyarakat sudah berikhtiar mencari rejeki yang halal, tapi ternyata makanan yang dikonsumsi disembelih dengan cara tidak halal. Jadi saya pernah menemukan ayam yang mati tidak dengan cara disembelih tapi disiram dengan air panas,” katanya.

Khofifah menyatakan keresahan yang sama juga dirasakan oleh Ketua PW Muhammadiyah Jawa Timur Kiai Sa’ad Ibrahim sebelum Dr Sukadiono dan Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, Marzuki Mustamar.

Baca Juga :  Produksi Gula Jatim Surplus, Namun Harga Melambung

“Saya juga pernah ke RPH menemukan sebelumnya areanya dijadikan satu antara penyembelihan sapi dengan babi. Setelah saya jadi gubernur, saya tiga kali mengirimkan tim agar lokasi penyembelihan sapi dan babi ini dipisahkan. Setelah benar-benar klir, saya mengunjungi RPH tersebut, pemilik RPH kaget dan mengungkapkan RPH yang sudah berdiri sejak 1927 ini tidak pernah ada pejabat level manapun yang datang ke sini. Saya bilang saya ingin memastikan kalau proses penyembelihannya sudah dipisahkan,” katanya.

Kemudian, lanjut Khofifah, ada juga penggilingan daging yang dicampur antara yang halal dan haram. Komposisinya 70 persen daging yang halal dan 30 persen daging yang tidak halal. “Kami berharap RPH yang belum bersertifikat halal segera dilakukan percepatan. Ini untuk membantu perlindungan konsumen secara halal,” pungkasnya. (mus)

SURABAYA – Dari 202 Rumah Potong Hewan (RPH) di Jawa Timur, hanya 16 RPH yang memiliki sertifikasi halal. Bahkan penyembelihan unggas di Jawa Timur dinilai tidak sesuai syariat Islam.

Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Juru Sembelih Halal (Juleha) Indonesia Jawa Timur, Imam Fauzi, usai Forum Percepatan Industri Halal Jawa Timur di Gedung Islamic Center Surabaya, Rabu (24/5).

Imam menambahkan sebuah penelitian Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Tahun 2019 menunjukkan 80 persen unggas yang dipotong di RPH tidak sesuai syariat Islam. “Bahkan di sebuah daerah di Jatim ada 1 orang menyembelih 1 ton dalam 1 malam. Juru sembelih ini mengakui kalau hasil sembelihannya tidak sesuai syariat Islam,” jelasnya.

Hanya saja menurut Imam, masyarakat tidak jeli melihat hewan yang sudah disembelih tersebut halal atau haram. Yang diperhatikan masyarakat kebanyakan adalah harga mahal atau murah. “Yang penting harga murah, mau halal atau haram diabaikan,” katanya.

Baca Juga :  Mobil MPV Paling Cocok untuk Keluarga di Indonesia
Ketua DPW Juleha Indonesia Jatim Imam Fauzi. (ISTIMEWA)

Imam mengatakan jumlah Juleha di Jatim yang terdaftar di Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (ARPHUIN) sebanyak 313 orang, namun yang bersertifikasi halal baru 46 orang. “Kami terus melakukan pendampingan di seluruh masjid di Jatim yang nantinya akan melakukan sertifikasi terhadap Juleha agar memahami halal dan haram,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Menurutnya penyebab kasus narkoba dan kelahiran bayi yang tidak diinginkan adalah karena kehalalan makanan yang dikonsumsi.

“Padahal masyarakat sudah berikhtiar mencari rejeki yang halal, tapi ternyata makanan yang dikonsumsi disembelih dengan cara tidak halal. Jadi saya pernah menemukan ayam yang mati tidak dengan cara disembelih tapi disiram dengan air panas,” katanya.

Khofifah menyatakan keresahan yang sama juga dirasakan oleh Ketua PW Muhammadiyah Jawa Timur Kiai Sa’ad Ibrahim sebelum Dr Sukadiono dan Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, Marzuki Mustamar.

Baca Juga :  Penerapan Industri 4.0 di Mamin Masih Minim

“Saya juga pernah ke RPH menemukan sebelumnya areanya dijadikan satu antara penyembelihan sapi dengan babi. Setelah saya jadi gubernur, saya tiga kali mengirimkan tim agar lokasi penyembelihan sapi dan babi ini dipisahkan. Setelah benar-benar klir, saya mengunjungi RPH tersebut, pemilik RPH kaget dan mengungkapkan RPH yang sudah berdiri sejak 1927 ini tidak pernah ada pejabat level manapun yang datang ke sini. Saya bilang saya ingin memastikan kalau proses penyembelihannya sudah dipisahkan,” katanya.

Kemudian, lanjut Khofifah, ada juga penggilingan daging yang dicampur antara yang halal dan haram. Komposisinya 70 persen daging yang halal dan 30 persen daging yang tidak halal. “Kami berharap RPH yang belum bersertifikat halal segera dilakukan percepatan. Ini untuk membantu perlindungan konsumen secara halal,” pungkasnya. (mus)

Most Read

Berita Terbaru