25 C
Surabaya
Thursday, December 8, 2022

Pasar Furnitur Mancanegara Luas, Kadin Dorong Manfaatkan Peluang Ekspor

SURABAYA – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surabaya M Ali Affandi La Nyalla M Mattalitti mendorong pengusaha Jawa Timur, khususnya Surabaya dan sekitarnya untuk sigap menangkap peluang pasar ekspor produk furnitur ke sejumlah negara menyusul tingginya permintaan pasar ekspor pasca pandemi Covid-19.

Ali mengungkapkan, pada masa Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung sejak awal tahun 2020 hingga saat ini, permintaan produk furnitur dari luar negeri mengalami lonjakan permintaan sehingga industri furnitur, khususnya yang berbahan dasar kayu, mencatatkan kinerja ekspor yang cukup memukau, bahkan mencatatkan kenaikan ekspor secara signifikan.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), selama periode Januari-Desember 2021 tercatat nilai ekspor furnitur dari kayu mencapai USD 1,99 miliar atau sekitar Rp 28,6 triliun. Nilai tersebut meningkat signifikan sebesar 32,54 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya mencatatkan USD 1,5 miliar atau sekitar Rp 21,65 triliun. Lima negara yang menjadi tujuan utama ekspor tersebut antara lain adalah Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Belanda, dan Prancis.

“Kita melihat peluang ekspor ke negara maju sangat besar. Sejak pendemi Covid-19, permintaan produk furnitur meningkat pesat dan ini menjadi peluang bagi Indonesia, khususnya Surabaya untuk bisa ekspor ke negara maju. Saat ini, Indonesia adalah negara pengekspor furnitur terbesar ke-8 untuk Amerika Serikat, juga ke Kanada, Prancis, Jepang dan lain sebagainya,” ujarnya, Rabu (21/9).

Tren kenaikan ekspor furnitur Indonesia ini menurut Andi, panggilan akrab Ali, sejatinya sudah mulai terjadi sejak terjadinya perang dagang antara AS dengan China, di mana China yang mendominasi pasar furnitur AS terkena dampak luar biasa dari imbas perang dagang. Sehingga, ketika para pembeli furnitur di AS mencari subtitusi, pasar tersebut menjadi rebutan negara-negara lain, termasuk Indonesia.

“Meskipun AS ingin mengoptimalkan industri mebel dalam negerinya, namun hal itu tidak serta merta bisa dilakukan karena peralihan pasokan dari impor menjadi produksi dalam negeri memerlukan waktu untuk mempersiapkan bahan baku, industri dan produksi,” jelasnya.

Terlebih produk-produk furnitur yang ditawarkan oleh para produsen Indonesia telah diakui kualitasnya serta memiliki desain yang bisa memenuhi selera pasar internasional, termasuk negara-negara Eropa. Industri furnitur di Indonesia sendiri bisa dibilang cukup luas dan tersebar di hampir seluruh provinsi.

Sentra-sentra yang cukup besar antara lain Jepara, Cirebon, Sukoharjo, Surakarta, Klaten, Jabodetabek. Di Jawa Timur sendiri ada beberapa kota yang menjadi sentra industri furnitur seperti Pasuruan, Gresik, dan Sidoarjo.

Di sisi lain, permintaan furnitur di pasar dalam negeri sendiri juga mengalami peningkatan dengan diberlakukannya kebijakan work from home (WFH) atau work from everywhere karena konsumen menginginkan suasana dan interior di rumah terasa nyaman.

Dalam kesempatan yang sama, Koordinator Export Center Surabaya (ECS) Fernanda Reza Muhammad, juga mengungkapkan hal yang sama bahwa saat pandemi Covid,l-19, banyak perusahaan furnitur luar negeri yang tutup, termasuk di Amerika dan China. Sementara di Indonesia tetap bisa berproduksi walaupun terbatas.

“Inilah yang diambil Indonesia untuk merebut pasar ekapor. Di Amerika, pada saat covid, semua work from home. Pada saat ini, ekspor produk-produk tersebut meningkat luar biasa,” jelas Reza. (mus/nur)

SURABAYA – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surabaya M Ali Affandi La Nyalla M Mattalitti mendorong pengusaha Jawa Timur, khususnya Surabaya dan sekitarnya untuk sigap menangkap peluang pasar ekspor produk furnitur ke sejumlah negara menyusul tingginya permintaan pasar ekspor pasca pandemi Covid-19.

Ali mengungkapkan, pada masa Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung sejak awal tahun 2020 hingga saat ini, permintaan produk furnitur dari luar negeri mengalami lonjakan permintaan sehingga industri furnitur, khususnya yang berbahan dasar kayu, mencatatkan kinerja ekspor yang cukup memukau, bahkan mencatatkan kenaikan ekspor secara signifikan.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), selama periode Januari-Desember 2021 tercatat nilai ekspor furnitur dari kayu mencapai USD 1,99 miliar atau sekitar Rp 28,6 triliun. Nilai tersebut meningkat signifikan sebesar 32,54 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya mencatatkan USD 1,5 miliar atau sekitar Rp 21,65 triliun. Lima negara yang menjadi tujuan utama ekspor tersebut antara lain adalah Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Belanda, dan Prancis.

“Kita melihat peluang ekspor ke negara maju sangat besar. Sejak pendemi Covid-19, permintaan produk furnitur meningkat pesat dan ini menjadi peluang bagi Indonesia, khususnya Surabaya untuk bisa ekspor ke negara maju. Saat ini, Indonesia adalah negara pengekspor furnitur terbesar ke-8 untuk Amerika Serikat, juga ke Kanada, Prancis, Jepang dan lain sebagainya,” ujarnya, Rabu (21/9).

Tren kenaikan ekspor furnitur Indonesia ini menurut Andi, panggilan akrab Ali, sejatinya sudah mulai terjadi sejak terjadinya perang dagang antara AS dengan China, di mana China yang mendominasi pasar furnitur AS terkena dampak luar biasa dari imbas perang dagang. Sehingga, ketika para pembeli furnitur di AS mencari subtitusi, pasar tersebut menjadi rebutan negara-negara lain, termasuk Indonesia.

“Meskipun AS ingin mengoptimalkan industri mebel dalam negerinya, namun hal itu tidak serta merta bisa dilakukan karena peralihan pasokan dari impor menjadi produksi dalam negeri memerlukan waktu untuk mempersiapkan bahan baku, industri dan produksi,” jelasnya.

Terlebih produk-produk furnitur yang ditawarkan oleh para produsen Indonesia telah diakui kualitasnya serta memiliki desain yang bisa memenuhi selera pasar internasional, termasuk negara-negara Eropa. Industri furnitur di Indonesia sendiri bisa dibilang cukup luas dan tersebar di hampir seluruh provinsi.

Sentra-sentra yang cukup besar antara lain Jepara, Cirebon, Sukoharjo, Surakarta, Klaten, Jabodetabek. Di Jawa Timur sendiri ada beberapa kota yang menjadi sentra industri furnitur seperti Pasuruan, Gresik, dan Sidoarjo.

Di sisi lain, permintaan furnitur di pasar dalam negeri sendiri juga mengalami peningkatan dengan diberlakukannya kebijakan work from home (WFH) atau work from everywhere karena konsumen menginginkan suasana dan interior di rumah terasa nyaman.

Dalam kesempatan yang sama, Koordinator Export Center Surabaya (ECS) Fernanda Reza Muhammad, juga mengungkapkan hal yang sama bahwa saat pandemi Covid,l-19, banyak perusahaan furnitur luar negeri yang tutup, termasuk di Amerika dan China. Sementara di Indonesia tetap bisa berproduksi walaupun terbatas.

“Inilah yang diambil Indonesia untuk merebut pasar ekapor. Di Amerika, pada saat covid, semua work from home. Pada saat ini, ekspor produk-produk tersebut meningkat luar biasa,” jelas Reza. (mus/nur)

Most Read

Berita Terbaru


/