alexametrics
25 C
Surabaya
Thursday, January 27, 2022
spot_img

BNI Terapkan Go Digital di Pasar Tradisional dan Sediakan KUR bagi Pedagang

spot_img

SURABAYA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) terus berupaya untuk mendukung kebangkitan ekonomi melalui platform Go Digital. Yaitu dengan menerapkan digitalisasi ekosistem pasar tradisional di Surabaya. Salah satunya di Pasar Wonokromo.

Direktur Hubungan Kelembagaan BNI, Sis Apik Wijayanto mengatakan, digitalisasi merupakan masa depan. Sehingga, proses pengelolaan pasar dan pembiayaan akan masuk ke dalam satu ekosistem digital. Di Surabaya sendiri ada enam pasar yang menjadi percontohan.

“Kita speed up pakai QRIS di BNI Mobile Banking atau barcode. Sehingga kalau ada orang belanja tak perlu lagi pakai kartu seperti yang dulu-dulu, cukup pakai HP, barcode-nya di-scan maka akan langsung debit ke tabungannya,” ujar Sis Apik Wijayanto didampingi Roy Wahyu Maulana, Pemimpin BNI Wilayah 06 Surabaya, Kamis (13/1).

GO DIGITAL: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto saat mengunjungi salah satu mitra BNI di Pasar Wonokromo Surabaya. (ABDULLAH MUNIR/RADAR SURABAYA)

Nantinya ekosistem digital seperti itu akan dimasalkan. Sehingga tak ada lagi uang tunai yang beredar. Penerapan transaksi cashless semacam itu akan mengurangi adanya pungutan-pungutan liar hingga biaya yang tak perlu yang kerap terjadi di pasar tradisional akan terpotong.

Penerapan transaksi cashless akan membuat ekosistem lebih produktif lagi. Di samping itu, BNI juga berkomitmen bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur untuk menerapkan ekosistem tersebut. Sehingga secara gradual di Jatim akan menerapkan sistem Go Digital seperti itu.

“Iya nantinya juga termasuk pasar yang ada di kabupaten atau kota di luar Surabaya. Misalnya di Kabupaten Mojokerto dan Bojonegoro, nantinya juga akan dilakukan ekosistem digital tersebut,” imbuh Sis Apik Wijayanto di sela mendampingi Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, meninjau Pasar Wonokromo.

Penerapan ekosistem digital semacam itu akan membuat efisiensi dan keamanan yang lebih terjamin. Sebab selama ini pedagang kerap mendapatkan biaya yang lebih tinggi akibat adanya pungutan liar. Sejauh ini sudah lebih dari 50 persen pedagang di Pasar Wonokromo yang sudah menerapkan sistem digital tersebut.

Tak hanya itu, BNI juga menyediakan kredit usaha rakyat (KUR) bagi sejumlah pedagang di Pasar Wonokromo. Jumlahnya bahkan mencapai Rp 400 juta. Mereka mulai pedagang ayam hingga sembako. Penyerahan KUR diberikan langsung oleh Menko Airlangga Hartarto.

“Di Pasar Wonokromo penyediaan KUR termasuk yang dominan. Ini merupakan komitmen BNI untuk men-support UMKM yang ada dan bagian dari komitmen untuk mempercepat pemulihan ekonomi,” terangnya.

Sis Apik Wijayanto berharap ke depan ekonomi dapat terus bergulir dan semakin efisien sehingga produktifitas meningkat. Tujuannya agar perekonomian masyarakat dapat tumbuh dan kembali normal di tengah pandemi. Sehingga ekonomi Jawa Timur dan Indonesia akan tumbuh lebih besar. (far/jay)

SURABAYA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) terus berupaya untuk mendukung kebangkitan ekonomi melalui platform Go Digital. Yaitu dengan menerapkan digitalisasi ekosistem pasar tradisional di Surabaya. Salah satunya di Pasar Wonokromo.

Direktur Hubungan Kelembagaan BNI, Sis Apik Wijayanto mengatakan, digitalisasi merupakan masa depan. Sehingga, proses pengelolaan pasar dan pembiayaan akan masuk ke dalam satu ekosistem digital. Di Surabaya sendiri ada enam pasar yang menjadi percontohan.

“Kita speed up pakai QRIS di BNI Mobile Banking atau barcode. Sehingga kalau ada orang belanja tak perlu lagi pakai kartu seperti yang dulu-dulu, cukup pakai HP, barcode-nya di-scan maka akan langsung debit ke tabungannya,” ujar Sis Apik Wijayanto didampingi Roy Wahyu Maulana, Pemimpin BNI Wilayah 06 Surabaya, Kamis (13/1).

GO DIGITAL: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto saat mengunjungi salah satu mitra BNI di Pasar Wonokromo Surabaya. (ABDULLAH MUNIR/RADAR SURABAYA)

Nantinya ekosistem digital seperti itu akan dimasalkan. Sehingga tak ada lagi uang tunai yang beredar. Penerapan transaksi cashless semacam itu akan mengurangi adanya pungutan-pungutan liar hingga biaya yang tak perlu yang kerap terjadi di pasar tradisional akan terpotong.

Penerapan transaksi cashless akan membuat ekosistem lebih produktif lagi. Di samping itu, BNI juga berkomitmen bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur untuk menerapkan ekosistem tersebut. Sehingga secara gradual di Jatim akan menerapkan sistem Go Digital seperti itu.

“Iya nantinya juga termasuk pasar yang ada di kabupaten atau kota di luar Surabaya. Misalnya di Kabupaten Mojokerto dan Bojonegoro, nantinya juga akan dilakukan ekosistem digital tersebut,” imbuh Sis Apik Wijayanto di sela mendampingi Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, meninjau Pasar Wonokromo.

Penerapan ekosistem digital semacam itu akan membuat efisiensi dan keamanan yang lebih terjamin. Sebab selama ini pedagang kerap mendapatkan biaya yang lebih tinggi akibat adanya pungutan liar. Sejauh ini sudah lebih dari 50 persen pedagang di Pasar Wonokromo yang sudah menerapkan sistem digital tersebut.

Tak hanya itu, BNI juga menyediakan kredit usaha rakyat (KUR) bagi sejumlah pedagang di Pasar Wonokromo. Jumlahnya bahkan mencapai Rp 400 juta. Mereka mulai pedagang ayam hingga sembako. Penyerahan KUR diberikan langsung oleh Menko Airlangga Hartarto.

“Di Pasar Wonokromo penyediaan KUR termasuk yang dominan. Ini merupakan komitmen BNI untuk men-support UMKM yang ada dan bagian dari komitmen untuk mempercepat pemulihan ekonomi,” terangnya.

Sis Apik Wijayanto berharap ke depan ekonomi dapat terus bergulir dan semakin efisien sehingga produktifitas meningkat. Tujuannya agar perekonomian masyarakat dapat tumbuh dan kembali normal di tengah pandemi. Sehingga ekonomi Jawa Timur dan Indonesia akan tumbuh lebih besar. (far/jay)

Most Read

Berita Terbaru