RADAR SURABAYA - Aroma daun pisang dan lontong yang sedang direbus menjadi pemandangan sehari-hari di Kampung Lontong, Surabaya. Dari kawasan ini, produksi lontong bisa mencapai 3,5 hingga 4 ton per hari.
Salah satu pembuat lontong, Pele, 49, mulai menekuni usaha tersebut sejak tahun 2000. Berawal dari berjualan tahu tek, Pele kemudian ikut membantu istrinya yang belajar membuat lontong dari tetangga.
“Dulu saya jualan tahu tek. Tetangga itu jualan lontong. Di sini sebelumnya memang sudah buat lontong. Kelihatan perkembangannya pesat, akhirnya istri belajar ke tetangga,” kata Pele, Kamis (13/8).
Baca Juga: Favorit Liga Champions 2026/2027: Siapa yang Bisa Hentikan PSG Raih Hat-trick?
Setelah mahir, istrinya mulai memproduksi dan menjual lontong sendiri dan memasarkannya ke sejumlah pasar.
Istrinya kini lebih banyak berjualan di Pasar Kedung Rukem, sementara anak turut membantu. Pele bertugas mengatur pengiriman lontong ke sejumlah pelanggan.
“Sekarang yang jualan di pasar, istri dan anak. Saya di rumah bagian kirim-kirim ke empat pasar di Surabaya, katering, dan hotel,” ujarnya.
Baca Juga: Muludan di Cumpat Surabaya, Saat Uang Berhamburan dari Atas Rumah dan Unta Menyapa Kampung Nelayan
Usaha tersebut kini dibantu delapan orang yang masih merupakan anggota keluarga. Bagi Pele, usaha lontong bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga warisan keluarga yang akan terus dikembangkan dari generasi ke generasi.
Dalam takaran tertentu, satu kilogram beras dapat menghasilkan sekitar 22 lontong.
Lontong yang diproduksi pun memiliki pasar yang luas. Selain menjadi pelengkap makanan tradisional seperti tahu tek, lontong juga banyak digunakan untuk bakso, sate, katering, hingga kebutuhan hotel.
Di balik produksi lontong dalam jumlah besar, pemilihan beras menjadi salah satu kunci. Pele tidak sembarangan memilih bahan baku.
Ia lebih memilih beras dengan kadar air yang sudah berkurang. Menurut dia, beras baru dengan kualitas premium justru tidak selalu cocok untuk produksi lontong dalam jumlah besar.
“Kalau kita pakai beras dengan kualitas premium bisa, tetapi hasilnya kurang. Satu kilogram beras hanya jadi 13–14 lontong,” jelasnya.
Baca Juga: Terlilit Utang, Pemuda Asal Bangkalan Ditangkap Curi Motor di Balongbendo Sidoarjo
Selain menghasilkan lebih sedikit lontong, beras premium juga berisiko membuat tekstur lontong tidak sesuai. Bagian tertentu bisa keras, sedangkan ujungnya justru lembek. Lontong juga lebih mudah basi.
Untuk satu lontong, Pele menggunakan sekitar dua sendok bebek beras. Beras dengan kadar air lebih rendah dinilai mampu menghasilkan lontong yang lebih padat dan memiliki daya tahan lebih baik.
Lontong tersebut dijual dengan harga sekitar Rp1.200 per biji. Harga biasanya baru mengalami kenaikan ketika memasuki momentum hari raya.
Baca Juga: Jabar Juara Soekarno Cup 2026, Taklukkan Bali Lewat Adu Penalti
“Kalau bahan dasar naik, biasanya ukurannya saja yang dikecilkan. Kita tidak bisa menaikkan harga begitu saja karena akan memengaruhi pelanggan,” katanya.
Besarnya produksi lontong di kawasan tersebut membuat kebutuhan beras ikut meningkat. Pele menyebut, kebutuhan beras untuk para pembuat lontong di Kampung Lontong bisa mencapai 3,5 hingga 4 ton per hari.
“Permintaan di Kampung Lontong per hari bisa sampai 4–5 ton. Kebetulan saya juga menyuplai beras 30 persen ke pembuat lontong. Sehari sekitar 1,7 ton,” ujarnya.
Baca Juga: Dari Taiwan Bawa Pulang Keahlian, BRI Peduli Dorong PMI Naik Kelas Jadi Entrepreneur
Menurut dia, kebutuhan tersebut membuat pergerakan stok beras di pasaran ikut terpengaruh. Keberadaan beras SPHP dinilai dapat membantu menjaga kestabilan harga.
“Kalau masih ada beras SPHP bisa mengontrol harga di pasaran. Apalagi kalau tidak ada stok dari Bulog, beras bisa melejit,” tuturnya.
Pada akhir pekan, kebutuhan produksi bisa meningkat. Terlebih saat permintaan katering dan hotel bertambah.
Baca Juga: Said Abdullah Targetkan PDIP Punya Gubernur Jatim pada 2029
Selain beras, daun pisang menjadi bahan penting dalam produksi. Daun pisang yang digunakan untuk membungkus lontong didatangkan dari Malang. Pele juga menjadi salah satu pemasok daun pisang bagi sejumlah pembuat lontong di sekitar tempat tinggalnya.
“Dari sekitar 50 pembuat lontong, saya menyuplai sekitar 15 orang,” katanya.
Proses pembuatan lontong membutuhkan waktu cukup panjang. Pekerjaan dimulai siang hari dengan memasukkan beras ke dalam daun pisang yang telah disiapkan.
Secara teknis, lontong sebenarnya dapat dimasak lebih cepat. Namun, ia memilih waktu perebusan yang lebih lama untuk menjaga kualitas.
Baca Juga: Kemiskinan Turun, Ketimpangan Melebar, Kelas Atas Makin Untung
“Kalau dua jam sebenarnya bisa, tetapi kita menjaga kualitas. Masak memang masak, tetapi belum tanak. Masih berair. Kalau dipotong masih ada bentuk biji beras. Kalau sampai tujuh sampai delapan jam, biji berasnya hancur dan ketika dipotong lebih bagus,” jelasnya.
Untuk ketahanan, lontong umumnya dapat bertahan sekitar dua hari dalam kondisi normal. Jika disimpan di dalam lemari pendingin, daya tahannya bisa mencapai sekitar satu minggu.
“Untuk elpiji juga sama saja. Hanya kadang terjadi barang langka karena semuanya tersedot di Kampung Lontong. Sekali pakai enam sampai sepuluh tabung, kalau hari raya bisa sampai sepuluh tabung,” pungkas Pele. (sam/gun)
Editor : Guntur IriantoSumber : radar surabaya