RADAR SURABAYA – Upacara adat Rambu Solo’ kembali menyita perhatian publik. Tradisi sakral khas masyarakat Toraja Utara ini tak hanya menjadi bentuk penghormatan terakhir bagi leluhur, tetapi juga berkembang sebagai daya tarik wisata budaya kelas dunia.
Pada awal Februari 2025, prosesi Rambu Solo’ digelar di Pangli untuk menghormati mendiang Ne’ Linggi’, tokoh adat yang disegani. Upacara berlangsung hampir dua pekan dan dihadiri ratusan pelayat, termasuk wisatawan mancanegara yang ingin menyaksikan langsung keunikan tradisi tersebut.
Bagi masyarakat Toraja, Rambu Solo’ bukan sekadar pemakaman. Dalam kepercayaan Aluk Todolo, seseorang yang wafat belum sepenuhnya dianggap meninggal sebelum seluruh rangkaian upacara selesai, sehingga jenazah masih disemayamkan di rumah dan diperlakukan layaknya orang sakit.
Baca Juga: Diduga Terlibat Setoran Jaringan Sabu, Kasat Narkoba Polres Toraja Utara Ditangkap
Ritual ini diyakini sebagai jalan mengantarkan arwah menuju Puya, sehingga keluarga akan berupaya maksimal menyelenggarakan upacara secara layak meski membutuhkan biaya besar.
Prosesi Rambu Solo’ terdiri dari berbagai tahapan sakral seperti Ma’tudan Mebalun, Ma’popengkalao, Ma’pasonglo’, hingga Ma’badong yang berupa tarian dan nyanyian adat penuh makna duka. Puncaknya adalah pemotongan kerbau atau Tedong Solok sebagai simbol bekal perjalanan arwah ke alam baka.
Baca Juga: Eksekusi Lahan Adat Toraja, Tongkonan Ka’pun Berusia 300 Tahun Dirobohkan
Kerbau khas Toraja, khususnya Tedong Bonga, memiliki nilai fantastis hingga ratusan juta rupiah per ekor. Tak heran, total biaya upacara bisa mencapai miliaran rupiah, tergantung status sosial keluarga.
Di satu sisi, kemegahan ritual ini turut memberikan dampak ekonomi signifikan. Sektor pariwisata lokal ikut terdongkrak, mulai dari penginapan, transportasi, hingga penjualan kerajinan khas Toraja.
Namun, tradisi ini juga menghadapi tantangan. Biaya tinggi serta arus modernisasi membuat sebagian generasi muda mulai mempertimbangkan pelaksanaan yang lebih sederhana.
Meski demikian, Rambu Solo’ tetap bertahan sebagai identitas budaya yang dijaga turun-temurun. Tradisi ini menjadi jembatan antara penghormatan leluhur dan peluang ekonomi di tengah perubahan zaman. (ida/fir)