Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Mekar di Bawah Bulan, Fenomena Unik Bunga Nokturnal yang Menakjubkan

Muhammad Firman Syah • Senin, 27 Oktober 2025 | 17:49 WIB
Penampakan bunga wijaya kusuma (Epiphyllum oxypetalum), salah satu bunga yang mekar pada malam hari.
Penampakan bunga wijaya kusuma (Epiphyllum oxypetalum), salah satu bunga yang mekar pada malam hari.

Radar Surabaya - Saat sebagian besar bunga menutup kelopaknya dan dunia terlelap, sekelompok bunga justru menampilkan keindahan sejatinya di bawah sinar bulan. Dikenal sebagai bunga nokturnal, spesies ini menunjukkan keajaiban adaptasi alam, mekar dalam gelap, menebarkan aroma kuat, dan berinteraksi dengan penyerbuk malam seperti ngengat serta kelelawar.

Fenomena tersebut bukan sekadar romantika alam, melainkan hasil dari evolusi panjang dan mekanisme biologis kompleks, sebuah strategi bertahan hidup yang cermat di tengah keheningan malam.

Berbeda dari bunga yang mekar di siang hari, bunga nokturnal tumbuh optimal dalam kondisi minim cahaya dan suhu rendah. Mekarnya di malam hari bukan kebetulan, melainkan strategi ekologis yang disebut penyerbukan nokturnal, yaitu proses penyerbukan dengan bantuan hewan aktif malam.

Beberapa contoh terkenal antara lain Ipomoea alba (moonflower), Epiphyllum oxypetalum (wijaya kusuma atau queen of the night), dan Cestrum nocturnum (melati malam). Umumnya, bunga-bunga ini memiliki warna kelopak pucat yang memantulkan cahaya bulan serta aroma manis yang kuat sebagai sinyal alami bagi penyerbuk malam.

Proses mekar bunga malam dikendalikan oleh sistem biologis yang presisi, dikenal sebagai ritme sirkadian. Sistem ini membuat tanaman mampu “merasakan” pergantian siang dan malam, sehingga tahu kapan harus membuka atau menutup kelopak.

Fitokrom, pigmen sensitif terhadap cahaya merah, berperan penting dalam mekanisme ini. Saat intensitas cahaya menurun, fitokrom memicu aktivitas hormon auksin dan etilen, dua hormon yang mengatur pertumbuhan jaringan dan pelunakan sel kelopak. Kombinasi sinyal tersebut menyebabkan kelopak bunga terbuka perlahan saat malam tiba.

Suhu dan kelembapan malam juga memengaruhi proses ini. Udara lembap membantu menjaga tekanan air dalam sel (turgor), sehingga bunga dapat mekar sempurna tanpa cepat layu. Pada spesies tertentu, jaringan kelopak bahkan dirancang lebih sensitif terhadap perubahan suhu, memungkinkan respon cepat terhadap malam hari.

Evolusi ini menjadikan bunga seperti wijaya kusuma, moonflower, dan melati malam mampu menyesuaikan waktu mekarnya dengan aktivitas penyerbuk utama, ngengat dan kelelawar yang bergantung pada aroma untuk menemukan nektar.

Bunga nokturnal dikenal dengan wangi khas yang kuat. Aroma tersebut dihasilkan oleh senyawa volatil seperti benzenoid, monoterpen, dan ester, yang kadarnya meningkat pada malam hari. Secara ekologis, aroma ini bukan untuk manusia, melainkan sinyal bagi penyerbuk nokturnal.

Ngengat dan kelelawar memiliki indra penciuman tajam yang menggantikan fungsi penglihatan di malam hari, menjadikan aroma bunga sebagai panduan alami.

Beberapa spesies, seperti sedap malam (Polianthes tuberosa), bahkan menunjukkan puncak aktivitas aroma antara pukul 21.00–02.00 dini hari, waktu dengan suhu dan kelembapan paling stabil, sehingga pelepasan senyawa volatil berlangsung optimal.

Saat malam tiba dan cahaya bulan mulai menyinari bumi, beberapa bunga justru menampakkan pesonanya yang tersembunyi. Salah satunya adalah Epiphyllum oxypetalum atau Queen of the Night, bunga yang hanya mekar satu malam dengan aroma kuat yang memenuhi udara.

Ada pula Ipomoea alba atau Moonflower, bunga berwarna putih besar yang mulai mekar menjelang senja dan tampak bersinar di bawah cahaya bulan. Sementara itu, Oenothera biennis atau Evening Primrose memikat lewat kelopak kuning cerah dan aroma manisnya yang lembut.

Tak kalah menawan, Cestrum nocturnum atau Night Blooming Jasmine menarik perhatian ngengat dan kelelawar dengan nektar manis yang menjadi sumber makanannya.

Di sisi lain, Datura spp. tampil menawan dengan aroma harum namun menyimpan racun sebagai bagian dari sistem pertahanan alaminya. Dalam keheningan malam, bunga-bunga ini seolah menari di bawah bulan, memperlihatkan keajaiban adaptasi dan harmoni alam yang jarang terlihat di siang hari.

Selain memesona, bunga nokturnal berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Mereka menjadi sumber makanan bagi serangga dan hewan malam, serta mendukung populasi penyerbuk seperti ngengat dan kelelawar yang berkontribusi terhadap penyerbukan dan pengendalian hama alami.

Menurut publikasi Nature, penyerbukan nokturnal turut menunjang keberlanjutan pertanian tropis. Beberapa tanaman pangan seperti kakao dan pisang bergantung pada penyerbuk malam, sehingga aktivitas ini berpengaruh langsung terhadap produktivitas tanaman.

Lebih dari sekadar objek ilmiah, bunga nokturnal memiliki makna simbolis yang kuat dalam budaya. Dalam berbagai tradisi Asia, bunga yang mekar di malam hari dianggap lambang keindahan tersembunyi, pencerahan spiritual, dan transformasi jiwa.

Wijaya Kusuma, misalnya, kerap dikaitkan dengan mitos Ratu Pantai Selatan dan dianggap simbol kemuliaan. Sementara melati malam sering digunakan dalam ritual spiritual karena aromanya dipercaya membawa ketenangan dan kejernihan batin.

Fenomena bunga yang mekar di bawah sinar bulan mengingatkan manusia akan kecerdasan alam. Setiap kelopak yang terbuka bukan sekadar peristiwa estetis, tetapi hasil dari sinergi biologi, kimia, dan strategi bertahan hidup.

Ketika bunga perlahan membuka diri di tengah senyap malam, kita sesungguhnya sedang menyaksikan mekanisme alam bekerja, harmonis, presisi, dan penuh makna. (wid/fir)

Editor : M Firman Syah
#melati #bunga wijaya kusuma #Epiphyllum oxypetalum #Kelopak #cahaya bulan