Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Ini Singkatan Kue Putu, Kuliner yang Syarat Makna dan Punya Sejarah Unik 1.200 Tahun Silam

Muhammad Firman Syah • Senin, 22 September 2025 | 15:38 WIB

 

Kue putu, camilan tradisional dengan sejarah panjang yang unik.
Kue putu, camilan tradisional dengan sejarah panjang yang unik.

Radar Surabaya – Siapa yang tak kenal suara khas tuuut… tuuut… yang kerap terdengar malam hari di depan rumah? Suara itu berasal dari uap pengukus kue putu, jajanan tradisional berwarna hijau dengan isian gula merah dan taburan kelapa parut. Meski sederhana, kue putu ternyata menyimpan sejarah panjang yang menarik.

Jejak awal kue putu tercatat di Tiongkok lebih dari 1.200 tahun lalu, tepatnya pada masa Dinasti Ming. Di China Silk Museum, kue ini dikenal dengan nama Xian Roe Xiao Long, kudapan berbahan tepung beras dengan isian kacang hijau lembut yang dikukus dalam cetakan bambu. Sajian ini bahkan kerap disandingkan dengan teh longjing dalam tradisi kuliner Tiongkok kuno.

Di Nusantara, nama “putu” muncul dalam naskah klasik Serat Centhini yang ditulis pada 1814, di era Kerajaan Mataram. Dalam teks itu, kue putu disebut sebagai hidangan pagi yang disajikan bersama serabi dan jenang. Dari situlah istilah “putu” dikenal luas di masyarakat Jawa.

Ada beberapa versi tentang asal-usul nama kue putu. Dalam bahasa Jawa, kata “puthu” berarti bundar atau lingkaran, merujuk bentuk cetakan bambu. Ada pula versi populer lain yang menyebut “putu” sebagai singkatan dari Pencari Uang Tenaga Uap, terinspirasi bunyi khas proses pengukusan.

Seiring waktu, kue putu mengalami akulturasi budaya. Saat Laksamana Cheng Ho berlayar ke Nusantara, kuliner ini ikut terbawa dan melebur dengan tradisi lokal. Hasilnya adalah kue putu yang kita kenal sekarang: adonan tepung beras hijau berisi gula merah cair, dikukus dalam potongan bambu kecil, lalu disajikan dengan parutan kelapa.

Cita rasa lembut, gurih, dan manis membuat kue putu digemari lintas generasi. Jika dulu identik dengan menu sarapan, kini jajanan ini lebih sering disantap sore atau malam hari, ditemani secangkir teh atau kopi.

Dari sisi gizi, setiap 10 gram kue putu mengandung 21 kilokalori energi, 0,3 gram protein, 3,7 gram karbohidrat, 0,6 gram lemak, serta mineral seperti kalsium dan zat besi. Tidak banyak, tapi cukup memberi tambahan energi sebagai camilan ringan.

Meski kini masyarakat disuguhi berbagai makanan modern, kue putu tetap bertahan sebagai ikon jajanan tradisional. Suara khas uapnya bukan sekadar tanda penjual lewat, tapi juga bagian dari memori kolektif yang mengingatkan bahwa kuliner sederhana bisa menyimpan sejarah panjang sekaligus istimewa. (mer/fir)

Editor : M Firman Syah
#kue putu #warisan nusantara #kuliner #tradisional #sejarah