Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Masjid Wapauwe, Masjid Tertua di Maluku Berdiri Sejak 1414, Dibangun Tanpa Paku dan Simpan Al-Qur’an Kuno

Muhammad Firman Syah • Kamis, 5 Maret 2026 | 18:31 WIB

 Bersejarah : Masjid Wapauwe di Desa Kaitetu, Maluku Tengah.
Bersejarah : Masjid Wapauwe di Desa Kaitetu, Maluku Tengah.

Radar Surabaya – Masjid Wapauwe dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Maluku yang masih berdiri hingga sekarang. Masjid yang berada di Desa Kaitetu, Kabupaten Maluku Tengah, ini dibangun pada tahun 1414 M dan menjadi saksi awal penyebaran Islam di wilayah Maluku.

Masjid bersejarah tersebut didirikan oleh Perdana Jamilu, tokoh dari Kesultanan Jailolo yang datang ke kawasan Tanah Hitu untuk menyebarkan ajaran Islam.

Perdana Jamilu diketahui menyebarkan Islam ke sejumlah wilayah di sekitar Pegunungan Wawane, seperti Assen, Wawane, Atetu, Tahala, dan Nukuhaly. Pada awal berdirinya, masjid ini bernama Masjid Wawane karena berada di lereng Gunung Wawane.

Dalam perjalanan sejarahnya, masjid ini beberapa kali dipindahkan. Pada masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1614, masyarakat Muslim setempat menghadapi tekanan sehingga masjid dipindahkan ke Kampung Tahala yang berjarak sekitar enam kilometer dari lokasi awal.

Baca Juga: Masjid Rahmat Surabaya Jadi Acuan Utama Penanda Waktu Salat sejak 1970

Di lokasi tersebut banyak tumbuh pohon mangga hutan yang dalam bahasa setempat disebut “wapa”. Sejak saat itu, masjid tersebut dikenal sebagai Masjid Wapauwe, yang berarti masjid yang berdiri di bawah pohon mangga.

Kemudian pada tahun 1664, pemerintah kolonial Belanda memindahkan masyarakat dari kawasan pegunungan ke wilayah pesisir. Bersamaan dengan itu, Masjid Wapauwe juga dipindahkan ke Desa Kaitetu, tempatnya berdiri hingga sekarang.

Keunikan masjid ini tidak hanya terletak pada sejarah panjangnya, tetapi juga pada arsitekturnya. Bangunan masjid berukuran sekitar 10 x 10 meter dengan material kayu, dinding gaba-gaba atau pelepah sagu, serta atap dari rumbia.

Menariknya, seluruh struktur bangunan dibuat tanpa menggunakan paku. Setiap bagian disatukan dengan pasak kayu, sehingga memungkinkan masjid dibongkar dan dipindahkan dengan mudah. Di dalam masjid terdapat empat pilar utama yang merupakan tiang asli sejak pertama kali didirikan.

Baca Juga: Keistimewaan Bangunan Masjid Jamik Peneleh Surabaya, Jejak Sunan Ampel di Kampung Penuh Sejarah

Bentuk bangunan masjid juga terlihat sedikit miring jika dilihat dari samping. Kemiringan tersebut membuat bagian kubah tampak tidak sepenuhnya simetris, namun bangunan tetap kokoh hingga saat ini.

Selain arsitekturnya yang unik, masjid ini juga menyimpan berbagai peninggalan bersejarah. Salah satunya adalah mushaf Al-Qur’an kuno yang selesai ditulis pada tahun 1550 oleh Muhammad Arikulapessy.

Mushaf tersebut ditulis menggunakan tinta dari campuran getah pohon dan pena yang terbuat dari urat enau. Al-Qur’an tersebut diyakini sebagai salah satu mushaf tertua yang masih tersimpan di Indonesia.

Di dalam masjid juga terdapat timbangan zakat fitrah dari kayu dengan pemberat kerang laut. Timbangan itu dilengkapi anak timbangan sekitar 2,5 kilogram yang dahulu digunakan sebagai ukuran zakat fitrah.

Baca Juga: Masjid Pesucinan Gresik, Jadi Jejak Islamisasi di Wilayah Pesisir Utara Jawa

Kawasan di sekitar masjid juga kaya peninggalan sejarah. Sekitar 150 meter dari lokasi masjid terdapat gereja tua peninggalan Portugis dan Belanda. Tidak jauh dari sana berdiri Benteng New Amsterdam yang berada di tepi pantai.

Benteng tersebut menjadi saksi sejumlah peristiwa sejarah, termasuk Perang Wawane dan Perang Kapahaha pada abad ke-17.

Hingga kini, Masjid Wapauwe tetap terawat dan menjadi salah satu bukti penting perjalanan sejarah Islam di Maluku sekaligus warisan budaya bernilai tinggi bagi masyarakat setempat. (ida/fir) 

 
Editor : M Firman Syah
#sejarah islam #maluku tengah #warisan budaya #Al Qur an #wisata religi