RADAR SURABAYA – Perayaan Idul Fitri terasa semakin lengkap dengan hadirnya aneka kue, mulai dari resep klasik hingga kreasi kekinian. Sajian tersebut bukan sekadar pelengkap hidangan, melainkan bagian dari tradisi silaturahmi dan kebersamaan keluarga yang telah mengakar.
Tradisi menyajikan kue saat Lebaran disebut telah berkembang sejak masa kolonial Belanda pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Sejarawan kuliner Fadly Rahman menjelaskan, interaksi budaya pada masa itu turut memengaruhi kebiasaan kuliner masyarakat, termasuk munculnya beragam kue kering yang populer hingga kini.
Baca Juga: Warga Surabaya Mulai Borong Kue Kering Lebaran, Nastar Tetap Paling Laris
Sejumlah kue klasik hampir selalu hadir di meja tamu saat Lebaran. Di antaranya nastar, kastengel, putri salju, cookies cokelat, kue kacang, hingga kue sagu keju yang kerap menjadi favorit keluarga.
Selain kue kering, ragam kue tradisional seperti lapis legit, bika Ambon, dan bolu pisang juga kerap menghiasi perayaan hari raya.
Seiring perkembangan zaman, tren kue Lebaran pun semakin beragam. Kreasi modern mulai bermunculan, seperti cake dengan varian rasa baru, donat mochi, pastry modern, hingga bolu dengan kombinasi cita rasa khas Lebaran.
Baca Juga: Kue Semprit Kembali Bersinar: Sentuhan Gen Z Lewat Kemasan Modern dan Komik Mini
Tak sedikit masyarakat yang kini mengemas aneka kue tersebut dalam bentuk hampers atau bingkisan spesial untuk dibagikan kepada kerabat dan kolega.
Meski kue klasik tetap menjadi primadona, sejumlah keluarga mulai menyesuaikan pilihan sajian dengan selera generasi muda serta tren kuliner terbaru. Perpaduan tradisi dan inovasi ini membuat suguhan Lebaran semakin meriah sekaligus berkesan. (she/fir)
Editor : M Firman Syah