Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Masjid Tiban Turen, Megah di Tengah Kampung: Dari Mitos Jin hingga Bukti Gotong Royong Santri

Muhammad Firman Syah • Selasa, 24 Februari 2026 | 04:23 WIB

Megah : Bangunan Masjid Tiban di Desa Sananrejo, Turen, Kabupaten Malang, menjulang di tengah perkampungan dengan arsitektur unik perpaduan Timur Tengah, India, dan Tionghoa.
Megah : Bangunan Masjid Tiban di Desa Sananrejo, Turen, Kabupaten Malang, menjulang di tengah perkampungan dengan arsitektur unik perpaduan Timur Tengah, India, dan Tionghoa.

RADAR SURABAYA – Di tengah permukiman padat Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, berdiri bangunan megah dengan ornamen detail dan arsitektur mencolok. Masjid Tiban Turen yang berada di kompleks Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah itu kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata religi di Malang Raya.

Kemegahannya kerap memantik cerita tak biasa. Tak sedikit warga luar daerah meyakini masjid tersebut dibangun oleh bangsa jin. Isu itu mencuat karena bangunan bertingkat bak istana tersebut berdiri di tengah kampung dengan akses jalan relatif sempit.

Padahal, pembangunan masjid telah dimulai sejak 1978 atas prakarsa pengasuh pesantren, KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh. Prosesnya dilakukan secara bertahap oleh para santri dan jamaah, jauh dari kesan instan sebagaimana cerita yang beredar.

Baca Juga: Rekomendasi Wisata Religi Ramadan di Surabaya, Sarat Sejarah dan Nuansa Spiritualitas

Isu pembangunan dalam semalam bahkan sempat dikaitkan dengan legenda Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso yang konon membangun seribu candi. Dugaan tersebut muncul lantaran warga jarang melihat truk besar keluar-masuk membawa material bangunan.

Hanabillah, salah satu santri sekaligus warga sekitar, membantah anggapan itu. Menurutnya, material didatangkan sedikit demi sedikit menggunakan kendaraan kecil seperti pikap.

“Yang bilang tidak pernah ada kiriman material biasanya orang yang rumahnya agak jauh dari sini. Kalau warga sekitar tahu prosesnya bertahap,” ujarnya.

Baca Juga: Petugas Gabungan Kembali Tertibkan Parkir Liar di Kawasan Wisata Religi Ampel Surabaya

Pengurus pondok menjelaskan, pembangunan awal dilakukan secara sederhana menggunakan batu merah dan tanah liat. Seiring bertambahnya jumlah santri, kebutuhan ruang ibadah yang lebih luas pun meningkat. Bangunan kemudian terus dikembangkan hingga kini menjulang sekitar 10 lantai dengan berbagai fungsi.

Rintisan pesantren telah ada sejak 1963. Sementara pembangunan masjid dimulai ketika jumlah santri kian banyak dan membutuhkan ruang salat memadai. Awal 1990-an, bangunan telah berdiri semi permanen dan terus diperluas hingga menjadi kompleks megah seperti saat ini.

Nama “Tiban” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “tiba-tiba muncul”. Istilah itu muncul karena masyarakat tidak mengetahui secara detail proses pembangunan, sehingga mengira bangunan tersebut berdiri secara misterius.

Pihak pesantren menegaskan, seluruh proses pembangunan dilakukan oleh manusia, yakni santri dan masyarakat sekitar secara swadaya tanpa unsur gaib.

Baca Juga: Sepuluh Pemuda Pesta Miras Diamankan di Kawasan Sentra Wisata Religi Ampel Surabaya

Dari sisi arsitektur, masjid ini memadukan gaya Timur Tengah, India, hingga Tionghoa. Perpaduan tersebut menjadikannya berbeda dari masjid kebanyakan. Selain ruang salat, kompleks juga dilengkapi fasilitas pendukung dan area istirahat santri.

Kini, Masjid Tiban tak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga magnet wisata religi. Pengunjung datang dari berbagai daerah, bahkan mancanegara, untuk menyaksikan langsung kemegahan bangunan yang lahir dari semangat gotong royong.

Di balik mitos yang sempat beredar, Masjid Tiban justru menjadi simbol kerja keras, ketekunan, dan perjalanan panjang pesantren tradisional di Kabupaten Malang. (ida/fir)

Editor : M Firman Syah
#Pesantren #gotong royong #masjid tiban #wisata religi #malang raya