SUMENEP – Di tengah maraknya kuliner modern yang terus bermunculan, Kaldu Kokot khas Sumenep masih menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu kuliner tradisional yang digemari masyarakat. Sajian berbahan dasar kikil sapi dan kacang hijau ini dikenal luas karena cita rasanya yang gurih serta proses pengolahan yang tetap mempertahankan cara-cara tradisional.
Kaldu Kokot telah lama menjadi bagian dari kebiasaan kuliner warga Sumenep. Hingga saat ini, hidangan tersebut masih menjadi pilihan utama masyarakat, terutama untuk menu sarapan hingga santapan siang hari. Selain mengenyangkan, rasanya yang khas membuat Kaldu Kokot tetap dicari dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Surabaya Tak Pernah Tidur, Ini 5 Spot Kuliner Andalan Pekerja Shift Malam
Proses pembuatan Kaldu Kokot terbilang tidak sederhana dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Kikil sapi sebagai bahan utama harus direbus dalam waktu panjang hingga benar-benar empuk dan tidak menimbulkan bau. Tahapan ini menjadi kunci penting karena sangat menentukan kualitas tekstur kikil serta rasa akhir dari hidangan.
Setelah proses perebusan awal, kikil kemudian dimasak kembali bersama kuah yang telah diracik dengan berbagai rempah. Bumbu yang digunakan antara lain bawang merah, bawang putih, jahe, dan merica. Perpaduan rempah-rempah tersebut menghasilkan aroma dan rasa gurih yang menjadi ciri khas Kaldu Kokot.
Baca Juga: Perkuat Daya Saing Perekonomian Daerah, BRI Dukung Bazaar UMKM “Jelajah Kuliner Indonesia” 2025
Selain kikil, kacang hijau menjadi bahan utama yang membedakan Kaldu Kokot dari sajian berkuah lainnya. Kacang hijau direbus hingga mekar, kemudian dimasukkan ke dalam kuah kikil. Campuran ini membuat tekstur kuah menjadi sedikit kental dengan rasa gurih alami. Racikan tersebut dikenal sebagai ciri khas Kaldu Kokot Kalianget.
Salah satu penjual Kaldu Kokot mengungkapkan bahwa proses memasak hidangan ini tidak bisa dilakukan secara instan. Menurutnya, kesabaran dalam mengolah kikil sangat berpengaruh terhadap cita rasa.
“Kikil harus direbus lama supaya empuk dan bumbunya benar-benar meresap. Kalau terburu-buru, rasanya tidak keluar,” ujarnya.
Baca Juga: Nostalgia Kuliner Jadul ala Tjangkroekan Djoeang di Tugu Pahlawan Surabaya
Dalam penyajiannya, Kaldu Kokot biasanya disajikan dalam keadaan hangat. Hidangan ini dilengkapi dengan taburan bawang goreng dan irisan daun bawang yang menambah aroma serta cita rasa. Sebagai pelengkap, Kaldu Kokot kerap disantap bersama lontong atau singkong rebus.
Meski tampil dengan sajian yang sederhana, perpaduan kuah gurih, kacang hijau, dan kikil yang lembut menjadikan Kaldu Kokot tetap diminati masyarakat. Kuliner tradisional ini pun terus bertahan dan menjadi salah satu identitas kuliner khas Sumenep hingga saat ini. (she/fir)
Editor : M Firman Syah