RADAR SURABAYA - Di kawasan Pabean Cantikan, Surabaya, atau tepatnya di seberang Pasar Atom, berdiri sebuah warung sederhana yang menyediakan menu nasi cumi.
Warung tersebut kini dikenal dengan nama Nasi Cumi Pasar Atom Bu Atun, yang sudah berdiri sejak tahun 1965 dan tetap menjadi buruan pecinta kuliner dari berbagai kota.
Warung ini dikelola oleh Jumaatun, atau akrab disapa Bu Atun, generasi ketiga penerus usaha keluarga.
Ia bercerita, usaha nasi cumi ini pertama kali dirintis oleh sang nenek, lalu diteruskan oleh ibunya, sebelum akhirnya ia mengambil alih sejak 2018.
“Mulai awal jualan dari nenekku tahun 1965, lalu ke umikku. Mulai 2018 saya yang melanjutkan. Sekarang anak-anak saya juga sudah ikut membantu,” tutur Bu Atun, Senin (8/12).
Awal berdiri, warung ini berjualan di pinggir jalan sekitar Pasar Atom menggunakan rombong.
Setelah cukup lama bertahan di lokasi itu, barulah berpindah ke tempat tetap hingga kini, dan menempati bangunan sendiri sejak tahun 2020.
Kini warung buka setiap hari mulai pukul 07.00 sampai 21.00 WIB, dengan tiga varian menu.
Yakni Nasi cumibBiasa (cumi peyek), nasi campur (cumi, empal, telur, peyek udang) dan nasi cumi spesial komplit (cumi, empal, telur, babat, paru, usus, peyek udang).
Meski berada di lokasi yang terlihat seperti restoran, Bu Atun menegaskan harga tetap terjangkau.
“Beberapa orang takut masuk karena dikira mahal. Padahal ini tetap warung. Harganya sama seperti dulu,” jelasnya.
Warung ini tidak hanya digemari warga Surabaya, tetapi juga pelanggan dari luar kota seperti Solo, Malang, Bandung, hingga Jakarta.
Bahkan sejumlah pejabat dan artis pernah mampir, termasuk Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Mayoritas pelanggannya adalah keturunan Tionghoa yang sudah datang turun-temurun.
Banyak dari mereka mengaku selalu kembali karena rasa yang konsisten.
“Yang membedakan nasi cumi saya itu bumbunya. Nomor satu. Resep tetap dari nenek, saya yang masak dan coba sendiri setiap hari. Rasa harus stabil,” tegas Bu Atun.
Mempertahankan kualitas bahan pun menjadi kunci. Cumi yang digunakan dipilih khusus dari Pasar Pabean.
“Saya ambil cumi yang ada bintik-bintiknya. Kalau murah bisa ambil sampai satu ton untuk stok. Kalau mahal ya satu kuintal saja,” tambahnya.
Selain rasanya yang khas, makanan ini mampu bertahan hingga 12 jam tanpa bahan pengawet, sehingga aman dibawa sebagai oleh-oleh bagi pelanggan luar kota.
Kini, nama warung resmi menggunakan label Nasi Cumi Pasar Atom Bu Atun, dan sudah dipatenkan agar tidak disalahgunakan.
“Banyak yang pakai nama nasi cumi cabang Pasar Atom. Makanya saya tulis tidak buka cabang. Masukan dari Pak Eri juga. Jadi biar tidak salah, lihat tulisan Bu Atun,” pungkasnya. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa