Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Setelah Pembangunan Selama 2 Dekade, Museum Termegah Mesir Resmi Dibuka, Pamerkan Artefak Tutankhamun

Nurista Purnamasari • Senin, 3 November 2025 | 03:35 WIB
MEGAH: Arsitektur Grand Egyptian Museum dirancang menyerupai bentuk piramida dengan fasad kaca dan atap miring.
MEGAH: Arsitektur Grand Egyptian Museum dirancang menyerupai bentuk piramida dengan fasad kaca dan atap miring.

RADAR SURABAYA - Setelah dua dekade pembangunan yang penuh tantangan, Grand Egyptian Museum (GEM) akhirnya resmi dibuka pada Sabtu (1/11).

Terletak hanya dua kilometer dari kompleks Piramida Giza, museum ini menjadi simbol kebangkitan budaya dan ekonomi Mesir.

GEM digadang-gadang sebagai museum arkeologi terbesar di dunia yang didedikasikan untuk satu peradaban, Mesir kuno.

Salah satu daya tarik utamanya adalah koleksi lengkap lebih dari 5.000 artefak milik Firaun Tutankhamun yang untuk pertama kalinya dipamerkan secara utuh dalam satu lokasi.

Pembukaan GEM bukan hanya peristiwa budaya, tetapi juga bagian dari strategi besar pemerintah Mesir untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata yang sempat terpuruk akibat gejolak politik dan pandemi global.

Pemerintah menargetkan 30 juta wisatawan per tahun pada 2032, dan GEM diharapkan menjadi ikon utama yang menarik wisatawan dari seluruh dunia.

Fasilitas dan Koleksi Ikonik

GEM berdiri megah di atas lahan seluas 120 hektare, dua kali lipat dari luas Museum Louvre di Prancis.
Area pameran permanennya mencapai 24.000 meter persegi, menampung 12 galeri utama yang menampilkan artefak dari berbagai era: prasejarah, Mesir kuno, hingga periode Romawi-Yunani.

Dua hall khusus didedikasikan untuk koleksi Tutankhamun, termasuk perhiasan emas, kereta perang, patung, dan artefak pemakaman yang sebelumnya tersebar di berbagai museum.

Saat memasuki atrium utama, pengunjung disambut oleh patung raksasa Ramses II setinggi 11 meter dan seberat 83 ton. Patung ini sebelumnya berdiri di pusat Kairo dan kini dipindahkan ke GEM sebagai simbol kebangkitan peradaban Mesir.

Arsitektur museum dirancang menyerupai bentuk piramida dengan fasad kaca dan atap miring, menciptakan harmoni visual dengan lanskap bersejarah Giza.

Museum ini juga mengintegrasikan teknologi modern seperti multimedia interaktif, augmented reality, dan sistem edukasi digital.

Ruang-ruang pameran dirancang untuk menyampaikan narasi tematik: kehidupan, kematian, dan warisan pascadinasti.

Pendekatan ini memungkinkan pengunjung tidak hanya melihat benda kuno, tetapi juga memahami konteks budaya dan makna historisnya secara mendalam.

Koleksi yang Hilang dan Tuntutan Pengembalian

Meski menyimpan ribuan artefak berharga, GEM belum sepenuhnya lengkap. Beberapa peninggalan penting Mesir kuno masih berada di luar negeri, seperti Batu Rosetta di British Museum (London), Zodiak Dendera di Louvre (Paris), dan patung dada Nefertiti di Neues Museum (Berlin).

Di dalam Grand Egyptian Museum terdapat 5.000 artefak milik Firaun Tutankhamun yang untuk pertama kalinya dipamerkan secara utuh.
Di dalam Grand Egyptian Museum terdapat 5.000 artefak milik Firaun Tutankhamun yang untuk pertama kalinya dipamerkan secara utuh.

Pembukaan GEM kembali memicu tuntutan dari para arkeolog dan masyarakat Mesir untuk mengembalikan artefak-artefak tersebut ke tanah asalnya.

Pemerintah Mesir menyatakan bahwa diplomasi budaya akan terus dilakukan untuk memperjuangkan repatriasi artefak.

GEM diharapkan menjadi bukti kesiapan Mesir dalam merawat dan memamerkan warisan budayanya secara profesional dan berkelas dunia.

Tantangan Pembangunan Selama Dua Dekade

Pembangunan GEM dimulai pada 2005 di masa Presiden Hosni Mubarak. Namun, proyek ini menghadapi berbagai hambatan, mulai dari revolusi politik, krisis ekonomi, pandemi COVID-19, hingga perubahan desain dan anggaran.

Meski begitu, pemerintah Mesir berhasil menyelesaikan megaproyek ini dengan dukungan internasional, termasuk dari Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA).

Total biaya pembangunan GEM diperkirakan mencapai lebih dari USD 1 miliar. Selain pembangunan museum, pemerintah juga membenahi infrastruktur pendukung seperti jalan raya, stasiun metro, dan

Bandara Internasional Sphinx yang terletak dekat kawasan Giza, guna mempermudah akses wisatawan.

Pembukaan Grand Egyptian Museum menandai era baru dalam pelestarian warisan budaya Mesir dan pengembangan sektor pariwisata nasional.

Dengan koleksi spektakuler, fasilitas modern, dan pendekatan edukatif yang imersif, GEM bukan hanya museum, tetapi juga pusat kebudayaan global. (dtk/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#wisatawan #arkeologi #mesir #Grand Egyptian Museum #destinasi wisata #Tutankhamun #firaun