RADAR SURABAYA - Surabaya kembali menjadi magnet bagi promosi pariwisata Kota Makassar.
Melalui gelaran Makassar Travel Fair 2025 di Atrium Tunjungan Plaza Surabaya, Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Makassar memperkenalkan beragam destinasi wisata dan kuliner khas daerahnya.
Kepala Bidang Promosi dan Pemasaran Dispar Makassar, Yulianti Jabir, mengungkapkan, Surabaya merupakan salah satu pasar wisata terbesar bagi Kota Makassar.
“Surabaya masuk tiga besar. Pertama wisatawan dari Jakarta, disusul Bali, berikutnya Surabaya,” ujarnya, Minggu (2/11).
Dalam pameran kali ini, Makassar secara khusus menonjolkan pesona kapal pinisi yang merupakan kapal layar tradisional khas Sulawesi Selatan dan diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2017.
Kapal berbahan kayu dengan dua tiang utama dan layar segitiga ini kini dikembangkan sebagai destinasi wisata bahari yang terbuka untuk umum.
“Kami sudah mulai membuka wisata kapal pinisi ini untuk masyarakat. Sebelumnya hanya untuk tamu undangan,” terang Yulianti.
Dispar Makassar memiliki dua kapal pinisi yang menawarkan tiga paket wisata, mulai dari sunset sailing, one day trip, hingga setengah hari perjalanan.
Rute pelayaran mencakup Pulau Lae Lae, Center Point of Indonesia, dan Tanjung Bunga Makassar, dengan durasi 2,5–3 jam dan kapasitas maksimal 40 penumpang.
“Kalau sore jam lima, wisatawan bisa menikmati sunset dari atas kapal. Konsepnya seperti city cruise tapi versi Makassar,” tambahnya.
Selain promosi wisata bahari, Dispar Makassar juga membawa berbagai kuliner khas Makassar, seperti putu cangkir, ketan srikaya, hingga pisang ijo.
Tak hanya itu, pameran tahun ini juga menampilkan produk lokal seperti tas, kriya, hingga aksesori hasil karya UMKM binaan Dekranasda.
“Ini tahun ketiga kami hadir di Surabaya. Kali ini kami ingin tampil lebih lengkap, tidak hanya wisata, tapi juga produk lokal dan kuliner,” jelas Yulianti.
Sejak penyelenggaraan Makassar Travel Fair tahun sebelumnya, kerja sama antara Dispar Makassar dan Dinas Pariwisata Kota Surabaya mencatat hasil positif.
“Tahun lalu nilai transaksi kami hampir mencapai Rp 40 miliar, termasuk dari pembeli asal Korea Selatan sebesar Rp 2,1 miliar,” ungkap Yulianti.
Untuk tahun ini, transaksi hingga hari kedua pameran sudah mencatat 400 paket wisata terjual.
Peserta yang terlibat dalam pameran tersebut antara lain PHRI, ASITA, dan Dekranasda.
Menurut Yulianti, Surabaya dipilih karena memiliki konektivitas transportasi yang sangat baik.
“Ada penerbangan langsung ke Makassar pagi, siang, dan malam. Orang Surabaya juga banyak yang suka kuliner Makassar, jadi potensinya besar,” ujarnya.
Dengan semakin mudahnya akses penerbangan langsung, Dispar Makassar menargetkan peningkatan kunjungan wisatawan dari Surabaya tahun ini.
“Harapannya tentu lebih tinggi dari tahun lalu. Apalagi sekarang sudah tiga kali direct flight per hari. Kami optimistis angka kunjungan wisatawan Nusantara akan terus naik,” tutup Yulianti. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa