Surabaya – Sebelum nasi menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia, sagu telah lebih dulu menjadi sumber pangan utama bagi penduduk Nusantara. Bahan pangan yang kini identik dengan wilayah timur Indonesia itu bukan sekadar komoditas, melainkan bagian dari peradaban kuno dan sistem kepercayaan masyarakat adat sejak ratusan tahun silam.
Bagi etnis Sentani di Papua, sagu memiliki nilai filosofis yang tinggi. Ada aturan adat yang mengikat, pohon sagu hanya boleh ditebang seperlunya dan tidak boleh mengenai anakan sagu. Mereka percaya, memperlakukan sagu dengan bijak berarti menjaga keseimbangan hidup sekaligus menghindarkan diri dari bencana.
Di Merauke, masyarakat Marori menjadikan sagu sebagai unsur penting dalam berbagai upacara adat. Dari kelahiran, lamaran, hingga kematian, sagu selalu hadir sebagai simbol kehidupan dan kebersamaan. Bahkan bagi marga Mahuze, sagu dipandang sebagai totem, lambang persaudaraan yang sakral dan tidak boleh diperjualbelikan.
Secara historis, keberadaan sagu di Nusantara jauh lebih tua dibanding beras. Peneliti sagu, Prof. Nadirman Haska, menjelaskan bahwa relief di Candi Borobudur menggambarkan “palma kehidupan” kelapa, aren, lontar dan sagu sebagai sumber pangan utama masyarakat masa lampau.
“Sagu itu makanan asli Indonesia. Saat kerajaan Hindu masuk, barulah beras dibawa oleh orang India,” ujarnya.
Menariknya, istilah “sego” dalam bahasa Jawa dan “sangu” dalam bahasa Sunda diyakini berasal dari kata “sagu”. Hal ini menunjukkan betapa dalamnya jejak bahan pangan tersebut dalam budaya dan bahasa Nusantara.
Kini, Indonesia menjadi rumah bagi sekitar 85 persen cadangan sagu dunia, dengan sekitar 1,2 juta hektare di antaranya berada di Papua dan Papua Barat. Namun, hanya sekitar lima persen yang telah dimanfaatkan secara optimal. Padahal, sagu memiliki potensi besar sebagai sumber karbohidrat alternatif pengganti beras yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Dari tepung sagu lahir berbagai olahan tradisional seperti papeda, sinole, dan kue sagu mutiara masing-masing menghadirkan cita rasa khas yang merepresentasikan kekayaan kuliner Nusantara.
Sagu juga menyimpan kisah luar biasa. Seorang tentara Jepang yang bersembunyi di hutan Halmahera setelah Perang Dunia II dilaporkan mampu bertahan hidup selama 35 tahun hanya dengan memakan sagu. Fakta itu mendorong Jepang untuk meneliti lebih dalam potensi sagu sebagai bahan pangan masa depan.
Para ahli memprediksi, pada akhir abad ke-21, sagu dapat menjadi salah satu penyelamat dunia dari ancaman krisis pangan global. Dengan cadangan melimpah dan tradisi pengolahan yang telah mengakar, Indonesia memiliki peluang besar untuk tampil sebagai pemasok sagu terbesar di dunia. (mer/fir)
Editor : M Firman Syah