Mojokerto — Di kaki Gunung Penanggungan, terbentang lanskap hijau menawan bernama Ranu Manduro. Meski belum sepopuler destinasi wisata lainnya di Jawa Timur, kawasan ini menjelma menjadi daya tarik baru bagi pencinta alam dan fotografer yang mencari panorama eksotis.
Siapa sangka, sabana memesona ini dulunya merupakan area tambang galian C milik PT Wira Bhumi yang ditinggalkan sejak 2018. Kini, bekas luka alam itu bertransformasi menjadi keindahan yang lahir secara alami, tanpa campur tangan manusia maupun proyek reklamasi.
Keajaiban Ranu Manduro terjadi secara spontan. Rumput liar tumbuh menutupi bekas galian, air menggenang di cekungan tanah, sementara bebatuan sisa tambang membentuk lanskap yang artistik. Nama “Ranu”, yang dalam bahasa Jawa berarti danau atau kubangan air, kini menjadi simbol kebangkitan alam. Genangan besar di tengah kawasan ini menjadi ikon utama yang menarik perhatian pengunjung.
Keindahan Ranu Manduro kerap disebut-sebut menyaingi panorama alam Selandia Baru. Hamparan rumput hijau, kontur bukit yang lembut, serta latar Gunung Penanggungan menciptakan pemandangan dramatis, terutama saat kabut turun di pagi hari.
Pemandangan ini membuat Ranu Manduro digemari para fotografer, pembuat konten digital, hingga pasangan yang mengabadikan momen prewedding dengan latar alami nan megah.
Ranu Manduro menawarkan pengalaman wisata yang sederhana namun berkesan. Tanpa wahana buatan atau fasilitas mewah, pengunjung dapat menikmati ketenangan alam, berjalan menyusuri sabana, atau sekadar duduk menikmati semilir angin.
Setiap sudutnya menyuguhkan pemandangan yang layak diabadikan. Keaslian inilah yang menjadi daya tarik utama bagi mereka yang ingin “menepi” sejenak dari hiruk pikuk kota.
Ranu Manduro berlokasi di Dusun Manduro, Desa Manduro Manggung Gajah, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Kawasan ini terbuka untuk umum selama 24 jam tanpa tiket masuk.
Pengunjung hanya dikenai biaya parkir sebesar Rp 3 ribu untuk sepeda motor dan Rp 5 ribu untuk mobil. Beberapa warung sederhana juga tersedia di sekitar area untuk memenuhi kebutuhan makanan dan minuman ringan.
Ranu Manduro menjadi bukti nyata bahwa alam memiliki kemampuan memulihkan diri. Dari tanah gersang bekas tambang, ia berevolusi menjadi ruang hijau yang menenangkan. Lebih dari sekadar destinasi wisata, Ranu Manduro menyimpan pesan tentang harapan, pemulihan, dan harmoni antara manusia serta alam. (man/fir)
Editor : M Firman Syah