Surabaya – Di balik laut yang tenang, terdapat makhluk kecil berduri yang kerap disalahpahami sebagai berbahaya. bulu babi atau landak laut. Tubuhnya dipenuhi duri tajam yang membuat banyak orang menghindarinya, padahal makhluk ini memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut sekaligus memiliki nilai ekonomi tinggi di berbagai belahan dunia.
Bulu babi tergolong dalam filum Echinodermata dan kelas Echinoidea, satu keluarga dengan bintang laut dan teripang. Nama ilmiahnya berasal dari bahasa Yunani, echinos berarti “landak” dan derma berarti “kulit”.
Tubuhnya bulat atau oval, dilindungi cangkang keras dari kalsium karbonat dan dipenuhi duri yang dapat bergerak. Di bagian bawah tubuh terdapat mulut yang dikenal sebagai “lentera Aristoteles”, struktur kompleks berbentuk rahang dengan lima gigi kapur untuk mengikis alga dan organisme kecil di batu karang.
Bagian atas tubuhnya terdapat anus, sehingga orientasi tubuhnya berbeda dari hewan laut lainnya. Sistem ambulakral berupa kaki tabung kecil membantu bulu babi bergerak, menempel, dan bernapas. Warna tubuh bervariasi mulai dari hitam, ungu, hijau, hingga merah, tergantung spesies dan habitat, dan beberapa spesies tropis memiliki duri beracun sebagai mekanisme pertahanan.
Bulu babi ditemukan hampir di seluruh lautan dunia, dari tropis hingga kutub. Di Indonesia, mereka mendiami terumbu karang dangkal, padang lamun, dan dasar laut berbatu, seperti Kepulauan Seribu, Lombok, Bunaken, hingga Raja Ampat.
Populasi bulu babi menjadi indikator kesehatan ekosistem laut, populasi stabil menandakan keseimbangan, sementara kepunahan atau ledakan populasi menunjukkan gangguan ekologis. Dalam rantai ekologi, bulu babi berperan mengendalikan pertumbuhan alga dengan mengikis lumut dan ganggang sehingga terumbu karang tetap bersih dan mendapat cahaya cukup untuk fotosintesis.
Pergerakannya juga membantu mengaduk sedimen dan meningkatkan sirkulasi oksigen, penting bagi organisme mikroskopis dan fitoplankton, sementara duri-durinya menjadi tempat berlindung bagi udang, ikan kecil, dan hewan laut lainnya. Populasi yang terlalu banyak atau sedikit dapat merusak keseimbangan karang dan alga, menunjukkan betapa rapuhnya ekosistem laut.
Bagian paling berharga dari bulu babi adalah gonad atau telur berwarna kuning keemasan, dikenal sebagai uni di Jepang dan menjadi bahan utama sushi kelas atas dengan harga jutaan rupiah per kilogram. Gonad ini kaya protein, vitamin A dan E, serta asam lemak omega-3.
Selain menjadi makanan, senyawa bioaktif dalam bulu babi berpotensi digunakan sebagai antiinflamasi, antikanker, dan bahan kosmetik. Indonesia memiliki beragam spesies bulu babi, mulai dari Diadema setosum yang berduri panjang di terumbu karang dangkal, Tripneustes gratilla dengan warna cerah dan duri pendek, Echinometra mathaei penghuni celah batu karang, Heterocentrotus mammillatus dengan duri besar seperti pensil, hingga Toxopneustes pileolus yang memiliki pediselaria beracun.
Meski tangguh, bulu babi menghadapi ancaman serius dari eksploitasi berlebihan, polusi, perubahan iklim, dan asidifikasi laut yang dapat melemahkan cangkangnya. Lembaga konservasi dan peneliti kelautan di Indonesia memantau populasi, melakukan penangkaran terbatas, restorasi terumbu karang, dan edukasi masyarakat pesisir untuk memastikan keberlanjutan spesies ini.
Dalam beberapa budaya pesisir, bulu babi dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan obat tradisional. Masyarakat Bajo, misalnya, mengonsumsi gonad sebagai sumber protein alami. Di Jepang, bulu babi menjadi simbol kemewahan, sementara cangkangnya digunakan sebagai ornamen rumah atau simbol perlindungan dalam kepercayaan tradisional.
Baca Juga: Bioluminesensi, Cahaya Alami yang Menyulap Laut dan Darat Jadi Spektakel Alam
Di balik penampilan menakutkan, bulu babi menyimpan pelajaran penting bagi sains dan manusia. Ia membuktikan bahwa keseimbangan ekosistem bergantung pada makhluk sekecil apapun yang mungkin diabaikan.
Setiap gerakannya di dasar laut menjaga terumbu karang tetap hidup, menyediakan oksigen bagi ekosistem, dan memberi sumber penghidupan bagi manusia, dari laboratorium biologi laut hingga restoran mewah di Tokyo. (wid/fir)
Editor : M Firman Syah