Surabaya - Pepes, hidangan tradisional yang dibungkus daun pisang dan dikukus, terus menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan kuliner Indonesia. Dengan aroma daun pisang yang harum dan bumbu yang meresap, pepes tetap digemari lintas generasi dan daerah.
Konon, pepes berasal dari tanah Pasundan, di mana masyarakat Sunda menyebutnya “pais”. Dari wilayah ini, pepes menyebar ke berbagai daerah Nusantara, menghadirkan variasi bahan dan cita rasa yang menyesuaikan selera lokal. Di Jawa Barat, misalnya, pepes ikan atau ayam berbumbu kuning menjadi menu khas yang kaya rempah. Sementara di daerah lain, ada pepes tahu, usus, bahkan pepes ikan asin berpadu parutan kelapa berbumbu gurih.
Keistimewaan pepes juga meluas hingga Sumatera, Bali, dan Sulawesi. Meski tiap daerah memiliki versi berbeda, esensi pepes tetap sama. Sederhana, alami, dan menggoda selera.
Berdasarkan literatur, pepes telah dikenal sejak awal abad ke-19, tepatnya 1814. Naskah kuno mencatat bahwa pepes atau “pais” sering disajikan untuk tamu kehormatan. Salah satu catatan datang dari Kiai Ngabehi Sadipura yang mendokumentasikan sajian nasi liwet lengkap dengan pepes ikan tambra saat berkunjung ke Bogor.
Proses memasak pepes dahulu memiliki filosofi tersendiri. Masyarakat Sunda tradisional menaruh bungkusan pepes di atas abu hawu (tungku kayu panas) selama berjam-jam, hingga delapan jam. Meskipun lama, hasilnya memuaskan. Bumbu meresap sempurna, tekstur kering legit, dan aroma daun pisang berpadu rempah serta kayu bakar yang khas.
Bagi ibu-ibu zaman dulu, memasak pepes juga efisien. Sambil bekerja di sawah, pepes ditinggalkan di tungku dan siap disantap saat kembali. Kini, cara tradisional digantikan kukusan modern. Namun, bagi penggemar kuliner autentik, pepes yang dimasak menggunakan kayu bakar tetap menjadi pilihan utama.
Pepes bukan sekadar makanan. Hidangan ini menjadi simbol kearifan lokal, memanfaatkan hasil alam sekitar ikan dari kolam, jamur dari ladang, bumbu dari halaman rumah, semuanya berpadu dalam bungkusan daun pisang sederhana namun sarat makna. (mer/fir)
Editor : M Firman Syah