Tuban – Ampo, jajanan khas Kabupaten Tuban, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan publik. Keunikan ampo terletak pada bahan pembuatnya, tanah liat, yang diyakini memiliki beragam manfaat kesehatan. Tradisi mengonsumsi ampo telah ada sejak ratusan tahun lalu dan masih lestari, khususnya di kalangan masyarakat pedesaan Tuban.
Awalnya, ampo muncul pada masa paceklik sebagai alternatif pengganjal lapar ketika bahan pangan pokok terbatas. Tanah liat pilihan dikumpulkan, dibentuk tipis seperti kerupuk, lalu dipanggang di atas tungku hingga kering dan mengeras.
Meski terdengar tidak biasa, ampo tidak memiliki rasa pahit atau aroma tanah, melainkan aroma asap khas, dan dianggap aman dikonsumsi. Masyarakat lokal kerap menikmatinya sebagai camilan pendamping kopi atau teh, terutama pada sore hari.
Selain sebagai camilan tradisional, ampo diyakini memiliki khasiat kesehatan. Beberapa manfaat yang disebut masyarakat antara lain meredakan panas dalam, menghilangkan gatal-gatal pada kulit, menyerap racun dalam tubuh, hingga membantu meredakan sakit perut ringan.
Cara konsumsi ampo bervariasi, ada yang langsung dimakan setelah dipanggang, sementara sebagian lain merendamnya terlebih dahulu dan meminum air rendamannya.
Ahli kesehatan mengingatkan agar ampo dikonsumsi dengan bijak. Kandungan mineral pada tanah liat tertentu memang berpotensi mendukung detoksifikasi tubuh, namun jika proses pemilihan dan pemanggangan tidak tepat, ampo bisa mengandung zat berbahaya. Penting memastikan ampo berasal dari tanah liat pilihan dan diolah sesuai tradisi masyarakat Tuban.
Saat ini, ampo tidak hanya menjadi camilan tradisional, tetapi juga bagian dari identitas kuliner Kabupaten Tuban. Di pasar-pasar tradisional, ampo dijual dalam bentuk siap konsumsi dan mulai dilirik sebagai produk khas daerah. Keunikan ini menegaskan bahwa warisan kuliner lokal Indonesia memiliki nilai sejarah, budaya, sekaligus manfaat kesehatan yang unik. (ara/fir)
Editor : M Firman Syah