Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Panduan Aman Konsumsi Ikan, Kurangi Risiko Paparan Merkuri dari Seafood

Muhammad Firman Syah • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 23:06 WIB
Ilustrasi Ikan dan Makanan Laut.
Ilustrasi Ikan dan Makanan Laut.

Jakarta – Merkuri merupakan zat kimia berbahaya yang banyak berasal dari aktivitas manusia, mulai dari pembakaran, praktik pertanian, hingga limbah industri. Limbah ini kerap berakhir di sungai dan laut, di mana merkuri berubah menjadi metilmerkuri, senyawa toksik yang mudah menempel pada otot ikan.

Paparan merkuri melalui konsumsi ikan atau makanan laut dapat terakumulasi dalam tubuh, menimbulkan risiko kesehatan serius. Bagi ibu hamil dan menyusui, zat ini berpotensi menghambat perkembangan janin atau masuk ke ASI. Dalam kadar tinggi, metilmerkuri dapat merusak sistem saraf serta mengganggu pertumbuhan dan fungsi otak.

Tidak Semua Ikan Aman dari Merkuri
Hampir semua ikan dan makanan laut mengandung jejak merkuri, meskipun kadarnya berbeda-beda. Meski begitu, seafood tetap merupakan sumber gizi penting, kaya protein, mineral, lemak tak jenuh, dan asam lemak omega-3 yang mendukung kesehatan tubuh.

Bagi orang sehat, konsumsi ikan dengan kadar merkuri rendah biasanya aman. Misalnya, di Amerika Serikat, kadar merkuri dalam darah masyarakat yang rutin makan ikan laut masih berada di bawah ambang aman, yaitu 5,8 mikrogram per liter. Namun, paparan berlebihan berisiko menimbulkan gangguan saraf, seperti mati rasa, kehilangan keseimbangan dan efek jangka panjang.

Kelompok yang Paling Rentan
Food and Drug Administration (FDA) dan Environmental Protection Agency (EPA) menekankan perhatian khusus pada kelompok berikut, Perempuan yang merencanakan kehamilan, Ibu hamil, Ibu menyusui, Bayi dan anak kecil

Kelompok ini disarankan membatasi konsumsi ikan tinggi merkuri dan memilih seafood rendah merkuri beberapa kali dalam seminggu.

Tips Aman Konsumsi Seafood

Pilih ikan rendah merkuri, seperti salmon, sarden, trout, pollock, anchovies, ikan herring, dan tuna kaleng.

Batasi konsumsi seafood sekitar 340 gram per minggu (dua porsi), atau 170 gram per minggu bagi yang lebih berhati-hati.

Hindari ikan dengan kadar merkuri tinggi, termasuk hiu, ikan makarel raja, swordfish, tuna bigeye, dan tuna sirip kuning.

Memasak ikan dengan digoreng, direbus, atau dipanggang tidak menghilangkan merkuri; seleksi jenis ikan tetap menjadi kunci. Jika satu minggu sudah mengonsumsi satu jenis ikan dalam porsi besar, hindari jenis seafood lain pada minggu yang sama untuk mengurangi risiko akumulasi merkuri.

Dengan menerapkan panduan ini, konsumsi seafood tetap memberikan manfaat gizi optimal sekaligus meminimalkan risiko kesehatan akibat merkuri. (dta/fir)

Editor : M Firman Syah
#merkuri #zat kimia #seafood #sistem saraf #limbah industri