Flores, NTT – Di ketinggian 1.639 meter di atas permukaan laut, mentari pagi menembus kabut tipis di puncak Gunung Kelimutu. Dari balik awan, tampak tiga kawah dengan warna berbeda. yakni hijau toska, cokelat kehitaman, dan biru kehijauan. Fenomena alam yang dikenal sebagai Danau Kelimutu ini menjadi ikon geologi sekaligus simbol budaya bagi masyarakat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.
Bagi banyak orang Indonesia, Danau Kelimutu bukan sekadar destinasi wisata, tetapi pertemuan antara ilmu pengetahuan dan kepercayaan lokal. Fenomena perubahan warna airnya yang misterius terus menjadi bahan kajian ilmiah para ahli geologi dan kimia lingkungan.
Danau Kelimutu pertama kali didokumentasikan oleh peneliti Belanda Van Suchtelen pada 1915 dan mulai dikenal luas setelah tulisan Y. Bouman pada 1929. Sejak itu, kawasan ini menarik perhatian wisatawan dan ilmuwan dari seluruh dunia.
Tiga kawah danau di puncak gunung ini memiliki nama sarat makna spiritual.
Tiwu Ata Mbupu, dipercaya sebagai tempat roh orang tua bijaksana.
Tiwu Nuwa Muri Koo Fai, diyakini menjadi tempat jiwa muda-mudi.
Tiwu Ata Polo, dianggap sebagai tempat bagi roh yang melakukan kejahatan.
Bagi masyarakat Suku Lio, warna air danau mencerminkan keseimbangan spiritual antara manusia dan alam. Perubahan warna dipercaya menandakan peristiwa besar, seperti gempa atau pergantian musim, sebuah keyakinan yang kerap beriringan dengan perubahan aktivitas vulkanik di bawah gunung.
Secara ilmiah, variasi warna Danau Kelimutu disebabkan oleh reaksi kompleks antara gas vulkanik, mineral, dan air. Penelitian menunjukkan bahwa gas seperti hidrogen sulfida (H₂S), sulfur dioksida (SO₂), dan karbon dioksida (CO₂) keluar dari ventilasi hidrotermal di dasar danau, kemudian bereaksi dengan mineral seperti besi, mangan, dan sulfur.
Warna hijau atau biru muncul karena kandungan sulfur, sedangkan warna merah atau cokelat berasal dari oksidasi besi, mirip proses terbentuknya karat pada logam. Selain faktor kimia, pencahayaan matahari dan sudut pantulan cahaya turut memengaruhi persepsi warna, menjadikan danau tampak berubah meski komposisinya relatif stabil.
Penelitian terbaru menemukan peran mikroorganisme ekstremofil, mikroba yang mampu bertahan di suhu tinggi dan lingkungan asam—dalam membentuk warna air danau. Mikroba ini memodifikasi senyawa kimia melalui aktivitas biologisnya.
Bakteri pengoksidasi sulfur dapat menghasilkan warna hijau kebiruan, sedangkan bakteri pengoksidasi besi menciptakan rona kemerahan di Tiwu Ata Polo. Temuan ini menegaskan bahwa Danau Kelimutu adalah laboratorium alam unik yang mempertemukan geologi dan biologi ekstrem.
Meski tampak tenang, Gunung Kelimutu masih aktif secara vulkanik. Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat perubahan warna signifikan pada Mei 2024, ketika kawah Tiwu Ata Polo berubah dari hijau kebiruan menjadi cokelat kehitaman.
Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid mengatakan perubahan tersebut kemungkinan dipicu oleh naiknya gas dari bawah permukaan.
"Faktor pemicu pasti belum diketahui, bisa karena curah hujan, suhu, atau konveksi gas yang meningkat," ujarnya.
Pemantauan pada 13–22 Mei 2024 mencatat 37 gempa vulkanik dalam, 1 gempa dangkal, dan 43 gempa tektonik lokal dan jauh. Aktivitas tersebut menunjukkan adanya pergerakan fluida dan tekanan gas di bawah sistem hidrotermal danau. Meski demikian, status Gunung Kelimutu masih Level 1 (Normal).
"Potensi bahaya utama saat ini adalah erupsi freatik, berupa semburan air panas dan abu di sekitar kawah," jelas Wafid.
Ia mengingatkan wisatawan agar tidak melewati pagar pembatas dan menjauhi area keluarnya gas beracun.
Dalam tradisi Suku Lio, Danau Kelimutu dijaga oleh roh leluhur. Setiap pengunjung diimbau memberikan sesajen sebagai bentuk penghormatan. Legenda turun-temurun menceritakan tentang gadis muda yang dikutuk, dan sejak saat itu ketiga danau dipercaya menjadi tempat bersemayamnya jiwa manusia.
Namun bagi ilmuwan, danau ini adalah jendela ilmiah untuk memahami sistem hidrotermal bumi. Interaksi antara gas vulkanik, mineral, mikroba, dan perubahan iklim menciptakan kombinasi warna yang terus berubah. Fenomena ini juga menjadi indikator kestabilan vulkanik, sebab perubahan warna sering mendahului peningkatan aktivitas magma.
Keberadaan tiga danau berwarna dalam satu puncak gunung tergolong langka di dunia. Fenomena serupa hanya ditemukan di Kawah Ijen (Jawa Timur) dan Danau Natron (Tanzania), namun hanya Kelimutu yang memiliki tiga kawah bersebelahan dengan warna berbeda.
Kawasan ini kini termasuk dalam Taman Nasional Kelimutu seluas 5.365 hektare, dan menjadi salah satu destinasi unggulan Nusa Tenggara Timur. Pemerintah bersama masyarakat menerapkan sistem konservasi ketat melalui pembatasan kunjungan dan edukasi lingkungan bagi wisatawan.
Danau Kelimutu tidak hanya merepresentasikan keindahan alam, tetapi juga dinamika bumi yang mempertemukan geologi, kimia, dan biologi. Setiap perubahan warnanya menyampaikan pesan tentang aktivitas bawah tanah yang tak pernah berhenti.
Di puncak Kelimutu, sains dan spiritualitas berpadu harmonis, mengingatkan manusia bahwa alam, betapa pun misteriusnya, selalu dapat dipahami dengan rasa hormat dan kesadaran ilmiah. (wid/fir)
Editor : M Firman Syah