Radar Surabaya - Tak ada Lebaran tanpa nastar. Kue mungil berwarna kuning keemasan ini telah menjadi ikon kehangatan dan simbol silaturahmi di setiap perayaan Idulfitri. Di balik rasa manis dan lembutnya, tersimpan perjalanan sejarah panjang yang berawal jauh sebelum menjadi kue khas Lebaran di Indonesia.
Jejak nastar dapat ditelusuri hingga masa kolonial. Ketika Belanda menaklukkan Jayakarta pada 1619 dan membentuk Batavia, terjadilah percampuran budaya antara bangsa Eropa dan masyarakat bumiputra. Asimilasi ini melahirkan budaya “Indis” perpaduan gaya hidup, cita rasa, dan kebiasaan antara Eropa dan Nusantara. Salah satu wujudnya terlihat dalam kuliner Indische rijsttafel, jamuan makan khas Hindia-Belanda yang menyajikan berbagai lauk dan sambal Nusantara di meja panjang.
Pengaruh Eropa tak berhenti pada hidangan utama. Dunia kue pun ikut berubah. Salah satunya melalui nastar. Awalnya, bangsa Portugis yang lebih dulu datang ke Asia membawa bibit nanas dari koloni mereka di Amerika Selatan. Dari buah itulah lahir pineapple pie atau pai nanas yang kemudian digemari kalangan Belanda. Namun, karena kue pai tidak tahan terhadap iklim tropis, para pembuat kue Belanda di Batavia melakukan inovasi: pai besar diubah menjadi kue kecil berisi selai nanas yang lebih awet disimpan. Kue itu dinamai ananas-taart “kue nanas” dalam bahasa Belanda, yang oleh lidah pribumi kemudian disederhanakan menjadi “nastar.”
Pada awalnya, nastar hanya disajikan dalam perayaan khusus keluarga Belanda, seperti Natal atau Paskah. Namun, para juru masak bumiputra yang bekerja di rumah tangga Eropa mulai menirunya. Mereka menyesuaikan bahan mahal seperti apel dan stroberi dengan nanas yang mudah ditemukan di tanah tropis. Dari dapur-dapur itu, nastar pun menyebar ke kalangan masyarakat lokal dan perlahan menjadi bagian dari tradisi perayaan besar.
Seiring waktu, nastar menjelma menjadi hidangan wajib di meja tamu setiap Idulfitri. Bersanding dengan kaastengel dan putri salju, kue ini menjadi simbol manisnya kemenangan dan kebersamaan setelah sebulan berpuasa.
Kini, nastar bukan sekadar kue kering. Ia adalah penanda waktu, aroma masa kecil, dan nostalgia yang melintasi generasi. Dalam setiap gigitannya tersimpan kisah kolonialisme, adaptasi budaya, dan warisan tradisi. Dari Portugis ke Belanda, dari Batavia hingga pelosok Nusantara, nastar menjadi cerita manis tentang bagaimana sejarah bisa bertahan dalam rasa. (mer/fir)
Editor : M Firman Syah