RADAR SURABAYA – Cahaya bulan purnama pada bulan kedelapan penanggalan Tionghoa kembali menyinari langit, menandai tibanya Festival Kue Bulan atau Zhong Qiu Jie. Tahun ini, perayaan yang juga dikenal sebagai Moon Cake Festival jatuh pada Senin, 6 Oktober 2025.
Tokoh Tionghoa Sutaji Yudho mengatakan, pesta kue bulan selalu dirayakan warga Tionghoa di berbagai tempat—mulai rumah, restoran, hingga tempat hiburan.
“Selalu ada kue bulan, atau orang Tionghoa menyebutnya tiong chia pia. Itu wajib,” ujarnya.
Menurut dia, bulan purnama pada festival ini dianggap paling sempurna sepanjang tahun. Karena itu, sejak zaman dulu selalu ada pesta di malam purnama sebagai ajang muda-mudi berkenalan. “Suasananya romantis, temaram, dan penuh keindahan,” katanya.
Tak heran, banyak syair dan lagu klasik Tiongkok berlatar suasana purnama. Bulan dianggap saksi pertemuan dan kerinduan, sekaligus lambang kesetiaan dan cinta yang tak lekang waktu.
Selain itu, kue bulan tetap menjadi simbol utama. Bentuknya yang bulat melambangkan keutuhan keluarga, sedangkan isiannya beragam—dari pasta kacang merah, wijen, hingga kuning telur asin yang menyerupai bulan purnama.
Pemerhati budaya Tionghoa Santi Liem menuturkan, festival ini juga menjadi momen berkumpul bersama keluarga. “Biasanya sambil menikmati teh hangat di bawah sinar bulan, berbagi cerita, dan tentu saja menyantap kue bulan,” ujarnya.
Di Indonesia, meski bukan hari libur nasional, suasana perayaan tetap terasa. Toko-toko kue Tionghoa ramai diserbu pembeli yang ingin mengirim kue bulan kepada kerabat dan sahabat sebagai simbol persaudaraan.
Festival ini mengingatkan bahwa di balik purnama yang bulat sempurna, selalu ada makna tentang cinta, kehangatan, dan kebersamaan yang menyatukan keluarga Tionghoa di mana pun berada. (*)
Editor : Lambertus Hurek