Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Durian, Sang Raja Buah Asia Tenggara dengan Aroma Ikonik

Muhammad Firman Syah • Jumat, 3 Oktober 2025 | 14:17 WIB
Si Raja Buah, durian, dengan daging kuning lembut dan aroma khas yang selalu menggoda pecinta buah tropis.
Si Raja Buah, durian, dengan daging kuning lembut dan aroma khas yang selalu menggoda pecinta buah tropis.

Radar Surabaya – Di Asia Tenggara, durian mendapat julukan “raja buah.” Julukan ini muncul bukan tanpa alasan. Sosoknya berduri tajam, daging buahnya lembut, dan aromanya yang menyengat menjadikannya ikon yang memunculkan rasa cinta sekaligus benci. Ada yang rela menempuh jarak jauh demi menikmatinya, namun tak sedikit pula yang menutup hidung ketika mencium baunya.

Durian diperkirakan berasal dari hutan tropis Asia Tenggara, terutama di Kalimantan, Sumatra, dan Semenanjung Malaya. Catatan sejarah menunjukkan buah ini telah dikonsumsi lebih dari 600 tahun lalu.

Seiring perdagangan dan migrasi, durian menyebar ke berbagai wilayah Asia hingga menembus pasar internasional. Kini, Thailand, Malaysia, dan Indonesia menjadi produsen utama durian dunia.

Secara ilmiah, durian termasuk famili Malvaceae dan genus Durio, dengan spesies paling populer Durio zibethinus. Pohonnya mampu tumbuh hingga 50 meter dengan batang besar dan kanopi lebat. Buah durian berbentuk bulat hingga lonjong, diselimuti kulit berduri sebagai pelindung alami.

Di balik kulit keras itu, tersimpan daging berwarna putih kekuningan hingga oranye, bergantung varietas. Teksturnya lembut, manis legit, bercampur sedikit pahit, dengan biji besar yang juga dapat diolah menjadi pangan.

Keunikan durian terletak pada aromanya yang menyengat hingga tercium dari puluhan meter. Penelitian menunjukkan, aroma tersebut berasal dari kombinasi lebih dari 40 senyawa volatil sulfur, termasuk etanethiol, metanediol, dan diethyl disulfide. Senyawa lain seperti ester, alkohol, dan keton menambah kompleksitas baunya.

Komposisi senyawa ini berbeda pada setiap varietas. Durian Musang King dari Malaysia dikenal lebih lembut, Montong dari Thailand bercita rasa manis dengan aroma ringan, sementara varietas lokal Indonesia kerap menghasilkan bau lebih tajam.

Tingkat kematangan buah juga memengaruhi aroma, durian yang jatuh alami biasanya lebih harum daripada yang dipetik sebelum matang.

Karena baunya dianggap mengganggu, sejumlah hotel, bandara, dan transportasi umum di Asia Tenggara melarang durian dibawa masuk. Namun, bagi pecinta durian, aroma itu justru menjadi “undangan” untuk segera mencicipinya.

Durian memiliki ratusan varietas. Di Indonesia, ada durian Petruk, Kani, Matahari, hingga durian Medan. Malaysia terkenal dengan Musang King dan D24, sementara Thailand populer dengan Montong. Setiap varietas menjadi kebanggaan daerah sekaligus daya tarik wisata kuliner.

Durian tidak hanya bernilai gizi, tetapi juga menjadi bagian dari budaya Asia Tenggara. Festival durian rutin digelar di Medan, Banyumas, hingga Penang. Secara ekonomi, buah ini bernilai tinggi, dengan harga varietas premium mencapai jutaan rupiah per buah di pasar internasional. Petani durian mengandalkan musim panen sebagai sumber utama penghasilan, sementara wisatawan rela datang jauh-jauh demi menikmati sensasi uniknya.

Durian adalah paradoks yang memikat, baunya menusuk, rasanya menawan. Dari sisi taksonomi hingga kimia aromanya, durian menjadi bukti kompleksitas alam yang menimbulkan perdebatan sekaligus kekaguman. Bagi pecinta sejati, tak ada aroma yang lebih menggoda selain bau durian yang merebak dari kejauhan, pertanda sang raja buah siap dinikmati. (wid/fir)

Editor : M Firman Syah
#raja buah #Aroma Menyengat #kalimantan #durian #Buah Tropis