Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Awan Lenticularis, Fenomena Indah di Gunung yang Berbahaya bagi Penerbangan dan Pendakian

Muhammad Firman Syah • Senin, 29 September 2025 | 17:57 WIB
Awan lentikularis berbentuk seperti topi terlihat menutupi puncak Gunung Rinjani, fenomena langka yang terbentuk akibat arus angin kuat melewati puncak gunung.
Awan lentikularis berbentuk seperti topi terlihat menutupi puncak Gunung Rinjani, fenomena langka yang terbentuk akibat arus angin kuat melewati puncak gunung.

Radar Surabaya – Langit pegunungan kerap menghadirkan fenomena memukau. Pada suatu sore cerah, puncak gunung tampak mengenakan topi raksasa berwarna putih keabu-abuan. Bentuknya halus, oval, berlapis-lapis, dan tetap diam meski angin bertiup kencang. Fenomena ini dikenal sebagai awan lenticularis, formasi awan yang memesona sekaligus menyimpan potensi bahaya.

Masyarakat kerap menyebutnya awan topi, awan tudung, atau awan UFO karena menyerupai piring terbang. Tidak heran jika dalam sejarah, penampakan awan ini kerap dikaitkan dengan mitos benda asing. Namun sesungguhnya, awan lenticularis terbentuk melalui mekanisme atmosfer yang kompleks.

Mekanisme Terbentuknya
Awan lenticularis lahir ketika angin kencang yang bergerak horizontal terbentur gunung. Udara yang terhalang dipaksa naik melalui sisi gunung, sehingga tekanan dan suhu menurun. Jika suhu mencapai titik embun, uap air mengembun menjadi awan.

Karena atmosfer stabil, aliran udara bergerak membentuk gelombang naik-turun, dikenal sebagai mountain wave. Di puncak gelombang, awan tercipta; di lembahnya, awan menguap. Proses berulang ini membuat awan tampak diam di langit meski partikel udara terus bergerak.

Jika lebih dari satu gelombang terbentuk, awan lenticularis tersusun berlapis menyerupai panekuk atau cakram UFO.

Berdasarkan ketinggian, awan ini terbagi menjadi tiga yakni, stratocumulus Standing Lenticular (SCSL), di bawah 2.000 meter, altocumulus Standing Lenticular (ACSL) pada 2.000–7.000 meter dan cirrocumulus Standing Lenticular (CCSL) di atas 7.000 meter.

Fenomena di Dunia dan Indonesia
Keindahan awan lenticularis dapat dijumpai di pegunungan tinggi seperti Andes, Alpen, dan Rocky Mountains. Di Indonesia, fenomena ini sering terlihat di Gunung Merapi, Rinjani, Sindoro, Sumbing, hingga Lawu. Pada Juli 2021, masyarakat Banda Aceh sempat dibuat kagum oleh awan lenticularis berbentuk gasing dan piring terbang yang menggantung di langit kota.

Indah Namun Berbahaya
Meski menawan, awan lenticularis menandakan adanya gelombang gunung yang memicu turbulensi kuat. Kondisi ini berbahaya bagi penerbangan, sehingga pilot biasanya menghindari kawasan dengan formasi awan tersebut.

Bagi pendaki, kemunculan awan lenticularis bisa menjadi peringatan adanya angin kencang di puncak gunung. Situasi ini meningkatkan risiko hipotermia, disorientasi, hingga kecelakaan saat mendaki.

Antara Mitos dan Realitas
Bentuknya yang unik membuat sebagian masyarakat menghubungkannya dengan penampakan UFO. Namun, para ahli meteorologi menegaskan bahwa awan lenticularis murni hasil interaksi atmosfer dengan topografi bumi.

Fenomena ini membuktikan bagaimana atmosfer bekerja dengan cara yang menakjubkan sekaligus berbahaya. Ia memperindah lanskap pegunungan, menjadi objek fotografi populer, namun juga pengingat bahwa alam menyimpan kekuatan besar. Pemahaman tentang awan lenticularis bukan hanya menambah wawasan, melainkan juga penting bagi keselamatan penerbangan dan aktivitas pendakian. (wid/fir)

Editor : M Firman Syah
#pendakian #UFO #awan lenticularis #gunung rinjani #gunung