Radar Surabaya – Sulit membayangkan, minuman beraroma pekat yang kini jadi teman setia nongkrong dan bekerja, dahulu pernah ditolak habis-habisan. Di beberapa wilayah dunia, kopi bahkan sempat dilarang karena dianggap berbahaya, memicu keresahan sosial, hingga dicap sebagai “minuman setan”.
Italia
Saat kopi pertama kali masuk ke Eropa pada abad ke-16, para pemuka agama Italia menentangnya. Kopi disebut racikan setan yang bisa merusak moral masyarakat. Namun segalanya berubah ketika Paus Klemens VIII mencicipinya. Alih-alih menolak, ia memuji rasanya dan menyatakan kopi layak disucikan. Restu Paus menjadikan kopi diterima dan berkembang pesat di Eropa.
Konstantinopel (Turki Utsmani)
Pada abad ke-17, Sultan Murad IV menganggap kopi ancaman sosial karena membuat jamaah lebih senang berkumpul di kedai kopi ketimbang masjid. Ia pun memberlakukan larangan keras. Hukuman pertama bagi pelanggar adalah dipukul, sementara pelanggaran kedua bisa berakhir tragis, dijahit dalam karung kulit dan dilempar ke Selat Bosporus. Meski mengerikan, larangan itu tak mampu memadamkan kecintaan masyarakat terhadap kopi.
Swedia
Abad ke-18, Raja Gustav III menilai kopi berbahaya bagi kesehatan. Ia bahkan melakukan eksperimen dengan tahanan hukuman mati yang dipaksa meminum kopi dalam jumlah besar. Ironisnya, para narapidana justru hidup lebih lama daripada dokter pengawasnya. Meski larangan diperbarui hingga 1820-an, rakyat Swedia tetap setia. Kini, Swedia justru dikenal sebagai salah satu negara dengan konsumsi kopi tertinggi di dunia.
Mekah
Menjelang akhir abad ke-15, kopi mulai populer di Mekah. Kafe-kafe pertama bermunculan dengan nama kaveh kanes, tempat masyarakat berkumpul, berdiskusi, hingga berhibur. Namun pada 1511, Gubernur Khair Beg melarang kopi karena dianggap memicu pemikiran radikal dan disamakan dengan anggur. Larangan itu akhirnya dicabut setelah Sultan Kairo membatalkannya.
Prusia
Di abad ke-18, Raja Frederick Agung gusar melihat rakyatnya lebih memilih kopi daripada bir. Ia memberlakukan monopoli, hanya kalangan elite yang boleh memanggang kopi, sementara rakyat biasa dilarang. Tentara pun ditugaskan mengawasi pemanggangan ilegal. Meski ditekan, rakyat tetap menemukan cara menikmati kopi hingga larangan itu tumbang.
Baca Juga: Matcha vs Kopi, Pilihan Minuman Populer di Kalangan Gen Z
Kini, kopi justru menjadi primadona dunia. Dari yang dulu ditolak, bahkan ditakuti, ia bertransformasi menjadi minuman universal yang menyatukan budaya dan pergaulan. Satu cangkir kopi, ternyata menyimpan sejarah panjang penuh drama dan perlawanan. (mer)
Editor : M Firman Syah