Radar Surabaya – Malam di tepi pantai sering dipenuhi keheningan dan kegelapan. Namun, di sejumlah lokasi, gelombang yang menghantam karang justru menghadirkan kilau biru kehijauan yang bergerak mengikuti arus. Fenomena bioluminesensi ini menjadikan lautan seakan berubah menjadi panggung kosmik yang memukau.
Bagi masyarakat pesisir, cahaya laut kerap dikaitkan dengan kisah mistis. Ada yang meyakini sebagai tanda hadirnya makhluk gaib penjaga samudra, sementara sebagian lain menafsirkan sebagai penanda musim ikan. Narasi semacam ini diwariskan turun-temurun jauh sebelum sains mampu memberikan penjelasan ilmiah.
Bioluminesensi adalah kemampuan organisme menghasilkan cahaya dari tubuhnya melalui reaksi kimia alami, bukan pantulan cahaya bulan atau lampu kapal. Fenomena ini menjadi bukti kompleksitas kehidupan di laut maupun di darat.
Secara ilmiah, cahaya bioluminesensi muncul dari interaksi senyawa luciferin dengan enzim luciferase. Reaksi ini menghasilkan cahaya biru atau hijau yang khas tanpa memancarkan panas, sehingga disebut sebagai cahaya dingin. Biasanya kilau ini terlihat ketika organisme terganggu oleh ombak atau pergerakan lain di sekitarnya.
Banyak makhluk hidup mampu menghasilkan cahaya alami. Di laut, plankton mikroskopis seperti dinoflagellata menjadi kontributor utama. Selain itu, ubur-ubur, cumi-cumi, hingga ikan laut dalam juga dikenal bercahaya. Di darat, kunang-kunang menjadi contoh yang paling dekat dengan masyarakat, sementara sejumlah jamur di hutan tropis Indonesia pun dapat bersinar samar pada malam hari.
Fenomena laut bercahaya dapat ditemukan di berbagai belahan dunia, mulai dari Maladewa hingga Puerto Rico. Indonesia juga memiliki destinasi populer, antara lain Pacitan di Jawa Timur, Jepara dan Karimunjawa di Jawa Tengah, hingga Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur dan Raja Ampat di Papua Barat. Keindahan ini menegaskan pesona Nusantara setara dengan destinasi internasional.
Bagi organisme, cahaya bioluminesensi memiliki fungsi vital, mulai dari memikat mangsa, sarana komunikasi, hingga perlindungan dari predator. Dari perspektif ekologi, keberadaan makhluk bercahaya juga dapat menjadi indikator kualitas laut, mengingat populasi plankton sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan.
Fenomena bioluminesensi memperlihatkan harmoni antara keindahan alam dan penjelasan sains. Dari legenda masyarakat hingga kajian ilmiah, cahaya alami ini terus memikat perhatian. Indonesia, dengan laut dan hutannya yang kaya, menyimpan keajaiban ini sebagai warisan alam yang patut dijaga agar tetap lestari dan bercahaya. (wid/fir)
Editor : M Firman Syah