Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Buah Sukun Nusantara, Dari Gorengan Kampung hingga Disebut Penyelamat Dunia di Eropa

Muhammad Firman Syah • Selasa, 23 September 2025 | 16:06 WIB
Buah Sukun, Buah "Sakti".
Buah Sukun, Buah "Sakti".

Madiun – Buah sukun yang akrab dijadikan gorengan, keripik, atau rebusan di kampung-kampung Nusantara ternyata pernah mengguncang perhatian masyarakat Eropa berabad-abad lalu. Buah yang masih satu keluarga dengan nangka ini bahkan sempat dijuluki sebagai “penangkal kiamat” karena diyakini mampu menyelamatkan dunia dari kelaparan.

Di tanah air, sukun (Artocarpus altilis) telah lama dikenal. Relief Candi Borobudur mencatat keberadaannya sebagai salah satu sumber pangan pokok masyarakat tempo dulu. Dengan tekstur lembut dan berserat mirip roti, orang Eropa kemudian menyebutnya breadfruit atau buah roti.

Sejarah mencatat, kisah sukun pertama kali menarik perhatian Eropa pada 1686, ketika penjelajah Inggris William Dampier menemukan buah ini di Guam. Dalam bukunya A New Voyage Round the World (1697), ia menulis kekagumannya terhadap buah dari pohon besar tanpa biji, berasa lezat, mengenyangkan dan diyakini mampu mengatasi penyakit kudis sekaligus kelaparan.

Catatan Dampier memicu rasa ingin tahu kalangan bangsawan dan ilmuwan Eropa. Namun, karena iklim Eropa tidak memungkinkan sukun tumbuh, Raja Inggris kemudian memerintahkan pembawaan bibitnya ke koloni-koloni di Karibia dan Amerika Tengah. Dari sana, penyebaran sukun berlanjut hingga ke Afrika dan Asia.

Pada awalnya, sukun lebih banyak dikonsumsi para budak karena mudah diolah, bergizi, dan mengenyangkan. Lambat laun, buah ini naik kelas. Orang Eropa mulai menyadari bahwa sukun bukan sekadar makanan rakyat jelata, melainkan sumber pangan bernutrisi tinggi dengan potensi besar.

Penelitian modern memperkuat klaim tersebut. Departemen Kesehatan Amerika Serikat menyebut sukun kaya vitamin C, magnesium, potasium, tinggi serat, rendah lemak, serta rendah gula. Selain itu, pohonnya mampu tumbuh di berbagai kondisi tanah dan tahan terhadap cuaca ekstrem, menjadikannya kandidat kuat sebagai tanaman masa depan.

Tak mengherankan bila banyak ilmuwan menilai sukun dapat menjadi solusi menghadapi ancaman krisis pangan global akibat perubahan iklim.

Dari relief Borobudur hingga penelitian internasional, perjalanan panjang buah sukun menegaskan bahwa pangan lokal Nusantara bukan sekadar pelengkap meja makan, melainkan warisan yang berpotensi menjadi jawaban atas tantangan dunia. (mer/fir)

Editor : M Firman Syah
#gorengan #nusantara #krisis pangan #eropa #Buah sukun