SURABAYA – Ada yang seru dan unik dalam perayaan Sembahyang Duan Yang di Kelenteng Pak Kik Bio, Hian Thian Siang Tee, Jalan Jagalan, Surabaya. Pukul 12.00 tepat, suasana makin meriah ketika anak-anak sekolah minggu Taman Kebajikan, bersama orang tua mereka, ikut mencoba permainan mendirikan telur ayam.
Bukan sekadar permainan biasa, fenomena ini hanya terjadi setiap tahun di tanggal 5 bulan kelima penanggalan Imlek. Konon, di momen itulah posisi matahari paling tegak lurus, sehingga telur ayam bisa berdiri dengan seimbang.
“Senang banget bisa ikut berdirikan telur. Tadi sempat jatuh, tapi akhirnya bisa berdiri juga,” ujar salah satu peserta cilik yang antusias mengikuti permainan itu.
Tradisi yang juga dikenal dengan nama Pesta Bakcang itu diawali dengan ritual sembahyang di altar utama klenteng. Warga Tionghoa berdoa memanjatkan harapan dan syukur atas kesehatan serta keselamatan keluarga.
Setelah sembahyang, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Hidangan utamanya tentu saja bakcang—ketan isi daging yang dibungkus daun dan dikukus hingga matang.
“Bakcang ini bukan sekadar makanan, tapi simbol tradisi yang sudah turun-temurun,” kata Giok Lan, jemaat klenteng yang ikut hadir sejak pagi.
Menurut dia, selain di kelenteng, warga Tionghoa biasanya juga merayakan pesta bakcang bersama keluarga di rumah masing-masing. “Kami memasak bakcang sendiri, berkumpul, dan makan bersama. Itu cara kami mengenang leluhur,” ujarnya. (*'
Editor : Lambertus Hurek