Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tari Remo Mulyojoyo Memukau Pengunjung Festival BRInita di Medokan Ayu Surabaya

Lambertus Hurek • Sabtu, 19 April 2025 | 20:02 WIB
Penampilan Tari Remo Mulyojoyo di kawasan Medokan Ayu Surabaya. (IST)
Penampilan Tari Remo Mulyojoyo di kawasan Medokan Ayu Surabaya. (IST)

RADAR SURABAYA - Pentas itu sederhana. Tak megah. Tapi bergetar.

Enam remaja menari. Gerakannya lincah. Dinamis. Mereka bukan penari biasa. Mereka adalah anak-anak Surabaya. Anak-anak sanggar. Namanya Sanggar Mulyo Joyo Enterprise.

Yang membimbing mereka bukan orang sembarangan. Sri Mulyani, S.Sn., M.Sos. Dosen Tari di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya. Tapi lebih dari itu: ia koreografer, penari kawakan. Sudah puluhan tahun menari. Tapi hari itu — Kamis pagi, 17 April 2025 — ia duduk di bangku penonton. Sesekali tersenyum bangga. Sesekali menahan air mata haru.

Tarian itu diberi nama Remo Mulyojoyo. Diangkat dari akar tarian tradisional khas Surabaya: Remo. Tapi disulap lebih segar. Lebih muda. Lebih hidup.

Penarinya: Inggar Belzky Tosabila, Naila Hilda Rada Robiah, Siti Aira Tungga Dewi, Hikmah Mutia Insani, Nayla Alyssa Azzahra, dan Nazhita Kirania Putri.

“Kami ingin Remo bisa terus relevan,” ujar Sri Mulyani. “Sekaligus jadi semangat warga Surabaya untuk terus kreatif dan menciptakan peluang.”

Apalagi momennya pas. Hari Kartini. Momentum emansipasi. Pemberdayaan perempuan. Maka pentas tari Remo itu seperti suluh kecil di antara lautan kegiatan Festival BRInita 2025.

Festival itu sendiri digelar oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. Namanya lengkap: BRInita Women Empowerment Festival 2025. Tempatnya di Kosagrha Lestari, Medokan Ayu, Rungkut.

Sederet kegiatan dilaksanakan: dari workshop urban farming, lomba memasak dengan produk kebun kota, hingga diskusi soal peran perempuan dalam pelestarian lingkungan dan ketahanan pangan.

Tapi pagi itu, tarian Remo-lah yang menyihir panggung.

“Saya jarang menyaksikan pertunjukan tari Remo sebagus ini,” kata seorang pengunjung, tak berhenti bertepuk tangan.

Sri Mulyani menunduk. Merunduk. Tapi senyumnya melengkung. Hari itu, ia seperti Kartini: tak menulis surat, tapi menulis gerak. Dengan tubuh-tubuh muda yang berani menari. Di kota yang makin ingin maju. Tapi tak lupa pada akar budayanya. (*)

Editor : Lambertus Hurek
#BRInita #sri mulyani koreografer #Sanggar Tari Mulyo Joyo Enterprise #medokan ayu #tari remo