RADAR SURABAYA - Banyak tempat untuk ngabuburit atau menghabiskan waktu berbuka puasa di Surabaya.
Salah satunya di kampung kue, Rungkut Lor Surabaya yang menjelang adzan berbuka puasa kawasan ini sepanjang jalannya banyak orang berjualan kue. Mulai dari kue tradisional hingga kekinian.
Pembuat dan penjualnya merupakan warga kampung asli Rungkut Lor.
Harga yang dijual pun mulai dari Rp 1.500 hingga Rp 5.000 per biji. Tentu ramah bagi kantong saat berbuka puasa.
Pendiri Kampung Kue Rungkat Lor Surabaya, Choirul Mahpuduah mengaku, dampak yang dirasakan masyarakat saat ikut menjual kue saat momen Ramadan ini.
Bahkan, berbagai lapisan masyarakat datang ke kampung ini, sehingga hal ini berdampak bagi perekonomian warga khususnya perempuan.
"Alhamdulillah momen Ramadan ini membawa dampak yang positif bagi warga mendongkrak perekonomian," ujar perempuan yang akrab disapa Irul ini, Minggu (9/3).
Ada sekitar 68 pedagang. Sebagian dari mereka juga menerima pesanan untuk takjil Ramadan seperti untuk acara berbuka puasa hingga dijual lagi oleh pedagang kue.
Selain itu, di hari-hari efektif tak sedikit perkantoran pun memesan untuk berbuka puasa. Bahkan ada yang pesan dengan berbagai macam takjil atau kue untuk berbuka setiap harinya.
"Ya jadi warga ada yang dapat orderan biasanya untuk kantor berbuka bersama untuk pedagang juga yang dijual lagi hingga perorangan. Selain itu ada juga menjual jajajan takjil di lapak karena pagi tidak jualan. Hanya terima pesanan," ungkap Irul.
Hingga saat ini, pesanan jajanan takjil Ramadan pun ramai. Bahkan, lebih banyak dari sebelumnya.
Meski demikian warga di kampung kue tak lepas dari berbagai bersama memaknai syukur yang didapat saat Ramadan.
"Ya selain jualan, alhamdulillah kami juga berbagi kadang di musala juga kadang saat berbuka itu juga kalau masih ada kami juga bagikan secara gratis," tutur Irul.
Salah satu pembeli, Fitra mengaku hampir setiap hari selama Ramadan tak pernah absen membeli jajanan untuk takjil maupun berbagai macam es.
"Ya, setiap Ramadan selalu beli. Bahkan dari kecil ya. Karena jajannya luar biasa macam-macam dan enak-enak," ujar Fitra.
Menurutnya, harga sangat cocok dengan kantong, terutama bagi anak muda. "Harganya murah cocok untuk kantong anak muda," ujarnya.
Keberadaan kampung kue ini sejak 2005, berawal dari sulitnya finansial ibu-ibu di kampung tersebut.
Selain itu sebagian dari mereka juga terdampak PHK sehingga memutuskan untuk membuat jajanan tradisional.
Hingga kini jumlah UMKM di kampung kue kurang lebih ada 63 UMKM kue.
Puluhan UMKM itu juga sudah terdata di Kelurahan Kali Rungkut dan sudah terdaftar secara digital di website kampung kue. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari