RADAR SURABAYA – Kelenteng Hong San Ko Tee Surabaya menggelar ritual Sembahyang King Thi Kong pada Rabu (14/2) tengah malam hingga Kamis dini hari. Ritual ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Imlek yang berlangsung selama 15 hari dan dikenal sebagai Tahun Baru bagi masyarakat Hokkian.
Pengurus kelenteng, Erdiana Tedjaseputra, menjelaskan bahwa Sembahyang King Thi Kong dilakukan pada Cia Gwee Ce Pek (tanggal 8 bulan 1 Imlek) pukul 12 malam, yang berarti telah memasuki Cia Gwee Ce Kaw (tanggal 9 bulan 1 Imlek). Upacara ini merupakan bentuk penghormatan kepada Thi Kong (Dewa Langit) yang diyakini sebagai pelindung masyarakat Hokkian sejak masa lampau.
"Upacara King Thi Kong dapat diselenggarakan secara sederhana atau lengkap, yang terpenting adalah ketulusan dan kesuciannya, bukan kemewahannya," kata Erdiana.
Dalam tradisi ini, peserta yang mengikuti sembahyang diwajibkan berpantang makanan berjiwa atau vegetarian sejak hari keempat bulan pertama hingga hari kesembilan. Larangan ini berkaitan dengan sejarah pelarian leluhur Hokkian ke kebun tebu untuk menghindari ancaman, di mana mereka hanya bertahan hidup dengan makanan nabati.
Sembahyang King Thi Kong juga memiliki aturan khusus dalam persiapannya. Segala perlengkapan yang digunakan harus bersih dan belum pernah dipakai untuk keperluan lain. Upacara biasanya dimulai pada pagi hari oleh anggota keluarga tertua, seperti kakek atau kepala keluarga.
Menurut Erdiana, ritual ini memiliki makna mendalam bagi umat Tionghoa, terutama bagi keluarga Hokkian. "Upacara King Thi Kong dipandang sebagai kunci dan penentu langkah kehidupan keluarga di tahun yang akan dijalani," ujarnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek