Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Mengenal Lebih Dekat Candi Tikus di Mojokerto, Menelusuri Warisan Budaya Tersembunyi Kejayaan Kerajaan di Jawa Timur

Jay Wijayanto • Minggu, 19 Januari 2025 | 16:05 WIB
Candi Tikus di Kabupaten Mojokerto yang eksotis dan penuh sejarah.
Candi Tikus di Kabupaten Mojokerto yang eksotis dan penuh sejarah.

RADAR SURABAYA - Di tengah hamparan hijau persawahan Trowulan, Mojokerto, tersembunyi sebuah permata arsitektur kuno yang menyimpan kisah kejayaan Kerajaan Majapahit.

Candi Tikus, meski namanya mungkin terdengar sederhana, merupakan bukti nyata kecanggihan teknologi pengairan dan kemegahan peradaban Jawa kuno yang masih dapat kita saksikan hingga hari ini.

Bangunan bersejarah ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah Indonesia, khususnya era keemasan Majapahit pada abad ke-13 hingga 15 Masehi.

Ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1914 oleh penduduk lokal yang sedang membersihkan semak belukar, Candi Tikus awalnya hanya tampak seperti gundukan tanah yang dipenuhi sarang tikus yang kemudian menjadi asal muasal nama uniknya.

Namun, siapa sangka di balik nama tersebut tersimpan sebuah mahakarya arsitektur yang memadukan fungsi praktis sebagai sistem pengairan dengan nilai estetika yang tinggi.

Terletak sekitar 13 kilometer dari pusat kota Mojokerto, candi ini merupakan petilasan peninggalan Kerajaan Majapahit yang masih terjaga dengan baik hingga saat ini.

Yang membuat Candi Tikus begitu istimewa adalah desainnya yang unik, berbentuk bangunan yang terbenam di dalam tanah sedalam kurang lebih 3,5 meter.

Struktur ini bukanlah sekadar tempat pemujaan, melainkan juga berfungsi sebagai petirtaan atau pemandian ritual yang dilengkapi dengan sistem pengairan yang sangat maju untuk zamannya.

Para arkeolog meyakini bahwa kompleks ini merupakan replika dari Gunung Mahameru sebagai gunung suci dalam mitologi Hindu yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya para dewa.

Keunikan arsitektur Candi Tikus tidak hanya terletak pada bentuknya yang menjorok ke dalam tanah, tetapi juga pada detail ornamen dan reliefnya yang menawan.

Setiap sudut candi dihiasi dengan pahatan indah yang mencerminkan tingginya tingkat kesenian dan keterampilan para pengrajin masa itu. Sistem saluran air yang rumit namun efisien menunjukkan bahwa nenek moyang kita telah memiliki pengetahuan hidrolik yang mumpuni, jauh sebelum teknologi modern dikenal.

Candi Tikus diperkirakan dibangun pada abad ke XIII atau abad ke-XIV. Di Kitab Nagarakertagama, Mpu Prapanca mengatakan bahwa dulunya candi ini adalah tempat pertitraan atau pemandian serta tempat upacara raja-raja terdahulu.

Bangunan candi yang terbuat dari bahan batu bata merah berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 22,50 x 22,50 meter persegi dan memiliki ketinggian sekitar 5,20 meter dari dasar kolam sampai pada ketinggian permukaan tanah di sekitarnya.

Banyak perdebatan muncul di kalangan pakar sejarah dan arkeologi mengenai fungsi asli dari Candi Tikus. Terutama terkait dengan desain arsitekturnya.

Beberapa pakar berpendapat bahwa candi tersebut berperan sebagai tempat mandi bagi keluarga raja, atau dikenal dengan petirtaan. Namun, pe ndapat lain menyebutkan bahwa candi itu lebih berfungsi sebagai tempat penampungan dan pengaliran air untuk masyarakat Trowulan.

Selain itu, ada pula anggapan bahwa bentuk menara Candi Tikus yang menyerupai Gunung Mahameru menunjukkan kemungkinan bahwa candi itu adalah lokasi pemujaan pada zaman itu.

Ahmad Imam Khairi dkk dalam buku Social Studies Visit Masyarakat Trowulan Mojokerto menyebutkan bahwa Candi Tikus merupakan simbol dari Gunung Mahameru.

Namun demikian, Candi Tikus bukan sekadar situs arkeologi biasa. Ia adalah saksi hidup kejayaan masa lalu, bukti nyata kehebatan arsitektur Nusantara dan warisan berharga yang masih menyimpan banyak misteri untuk dipecahkan.

Keberadaannya menjadi pengingat akan pentingnya melestarikan warisan budaya bangsa, sekaligus membuka mata kita akan kecanggihan peradaban Indonesia di masa silam.

Untuk menuju Candi Tikus, Anda bisa datang pada pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Harga tiket masuk Candi Trowulan sangat terjangkau, hanya Rp3000. Anda bisa berwisata sambil mengetahui sejarah unik dari candi eksotis ini. Para pengunjung juga bisa berswafoto dan mengabadikan momen di area Candi Tikus. (ask/jay)

Editor : Jay Wijayanto
#warisan budaya #candi tikus #Arsitektur Kuno #mojokerto #kerajaan majapahit #Trowulan