RADAR SURABAYA - Di pesisir selatan Kabupaten Jember, Jawa Timur, terdapat sebuah pulau yang menyimpan berbagai cerita mistis dan keindahan alam yang memukau, yakni Pulau Nusa Barong.
Terletak sekitar 50 kilometer dari pusat kota Jember, pulau ini dikenal sebagai kawasan konservasi dengan ekosistem yang kaya, tetapi juga menyimpan cerita legenda yang melekat dalam ingatan masyarakat sekitar.
Dua penguasa mistis disebut-sebut mendiami pulau ini, yang menjadikannya bukan sekadar tempat wisata alam, melainkan juga destinasi penuh misteri.
Pulau Nusa Barong adalah surga bagi para pencinta alam. Sebagai cagar alam yang dilindungi, pulau ini menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna, termasuk burung langka, monyet ekor panjang, serta hutan tropis yang lebat.
Pantai-pantai di pulau ini menawarkan pasir putih dan air laut yang jernih, tetapi akses menuju ke sana cukup menantang. Dengan ombak besar khas Samudera Hindia, pulau ini menjadi surga tersembunyi yang belum banyak terjamah manusia.
Di balik keindahan alam dan nilai sejarahnya, Pulau Nusa Barong Jember juga dikenal dengan kisah-kisah mistis dan mitos yang menakutkan. Salah satu cerita yang sering dibicarakan oleh masyarakat setempat adalah tentang seekor ular raksasa yang diyakini menjaga pulau tersebut.
Beberapa pendapat mengatakan bahwa nama “Barong” memiliki kaitan dengan arti ular, sementara ada pula yang meyakini bahwa “Barong” menggambarkan kegelapan yang berasal dari roh-roh jahat.
Selain itu, warga setempat juga sering menceritakan tentang keberadaan harimau putih yang dianggap sebagai penjaga spiritual Pulau Nusa Barong.
Pulau ini juga memiliki sejarah kelam yang terkait dengan konflik internal di Kerajaan Blambangan. Pertempuran tersebut menjadikan Nusa Barong saksi bisu dari pertumpahan darah dan kehancuran.
Dalam buku Ujung Timur Jawa, 1763-1813: Perebutan Hegemoni Blambangan karya Margarana, dikisahkan perselisihan antara dua tokoh, Sindukupa dan Sindubrama.
Konflik ini bermula ketika VOC berupaya memperluas kendalinya ke Pulau Nusa Barong, yang memicu ketegangan di antara penguasa lokal di Blambangan. VOC ingin menjadikan pulau ini sebagai bagian dari sistem ekonomi mereka, namun penduduk lokal terpecah menjadi dua kubu.
Satu kelompok, yang mendukung kerja sama dengan VOC, dipimpin oleh Sindukupa, sementara kelompok lain yang menentang dipimpin oleh Sindubrama.
Sindubrama memimpin kelompok yang menolak keras segala bentuk keterlibatan dengan VOC. Puncak dari konflik ini terjadi ketika Sindukupa, yang pro-VOC, dibunuh oleh anak tirinya sendiri, Sindubrama, yang menolak tunduk pada kekuasaan VOC.
Kisah ini menjadi bagian dari sejarah panjang perjuangan dan pengkhianatan yang menghiasi perjalanan Pulau Nusa Barong.
Sejak peristiwa tersebut, Pulau Nusa Barong ditetapkan sebagai wilayah tak berpenghuni. Saat ini, pulau tersebut telah dijadikan kawasan cagar alam dengan tujuan menjaga dan melestarikan keanekaragaman flora dan fauna yang hidup di dalamnya.
Namun, keindahan tersebut dibarengi dengan cerita mistis yang mengakar kuat di masyarakat Jember. Konon, pulau ini bukan hanya tempat bagi flora dan fauna, melainkan juga dihuni oleh dua sosok penguasa gaib yang mengendalikan kehidupan di sana.
Bagi sebagian orang, cerita ini hanyalah mitos yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, bagi masyarakat lokal, legenda ini adalah cerminan dari penghormatan terhadap alam dan spiritualitas. Nusa Barong bukan hanya tempat tinggal bagi makhluk hidup, tetapi juga rumah bagi kisah-kisah yang terus hidup di hati penduduk Jember.
Dengan pesona yang begitu unik, Pulau Nusa Barong menawarkan lebih dari sekadar pemandangan indah. Ia mengajak siapa saja yang mengunjunginya untuk merenung, menghormati, dan menjaga harmoni dengan alam, sebagaimana yang telah diajarkan oleh legenda dua penguasa mistisnya. (ask/jay)
Editor : Jay Wijayanto