RADAR SURABAYA – Komunitas Pernak-Pernik Surabaya Lama (PSL) baru-baru ini mengadakan kunjungan ke Penang, Malaysia, yang tidak hanya bertujuan untuk jalan-jalan, tetapi juga untuk melakukan studi banding mengenai penataan kota lama dan bangunan heritage di daerah tersebut.
Stefanus Nuradhi, pengurus PSL, berbagi cerita tentang pengalaman mereka selama berada di Penang. Mereka banyak berjalan kaki dan naik bus. Jalannya sangat bersih, dan lalu lintasnya tertib.
"Di Surabaya, kami belum merasakan Suroboyo Bus dengan Wira-wirinya, sementara di sini bus-busnya besar, jalannya kencang, dengan kecepatan 40-60 km/jam, dan tepat waktu di setiap halte. Pembayaran bisa menggunakan uang elektronik atau kartu berlangganan," ungkap Stefanus.
Ia juga menyebutkan lingkungan di Penang jauh lebih bersih dibandingkan Surabaya. Lalu lintas di sana sangat tertib, dan pejalan kaki sangat dihargai.
"Tidak ada yang main serobot, apalagi menerobos lampu merah. Ini sangat kontras dengan kondisi di Surabaya," tambahnya.
Pada hari ketiga di Penang, mereka banyak berkeliling di Georgetown, terutama di sekitar Lebuh Armenian, kawasan yang mayoritas dihuni oleh komunitas Tionghoa Penang. Di sana, mereka berharap bertemu teman-teman dari Surabaya.
Mereka malah bertemu dengan penjual Java Mee, hidangan khas Jawa, dan berjumpa dengan orang-orang dari Langkat dan Jogja yang sedang melayani makanan di restoran Canai di Taman Pekaka. "Malamnya, kami berinteraksi singkat namun hangat dengan mereka," katanya.
Hari keempat di Penang, mereka mengunjungi Ayer Item Klenteng Keh Lok Si, sebuah kompleks klenteng yang terletak di bukit. Stefanus mengungkapkan bahwa kawasan ini sangat luas dan menaiki tangga pagoda hingga ke tingkat tertinggi cukup menguras tenaga.
"Tidak ada komentar selain bahwa tempat ini sangat bagus dan layak untuk dikunjungi," ujarnya. Bahkan, sang driver Grab yang mengantar mereka sempat meragukan staminanya, bercanda bahwa mereka bisa saja 'ngglundung' saat naik turun tangga.
Kunjungan ini tidak hanya memberikan wawasan tentang penataan kota lama dan pelestarian bangunan heritage di Penang, tetapi juga mempererat hubungan antar anggota PSL serta memberikan pengalaman yang berkesan dalam perjalanan budaya dan sosial. (*)
Editor : Lambertus Hurek