SURABAYA – Tak banyak bangunan cagar budaya berbentuk patung atau arca di Surabaya. Kebanyakan berupa gedung atau sarana infrastruktur lain seperti jembatan dan kompleks pemakaman.
Namun di tengah kota Surabaya, terdapat sebuah patung yang telah ditetapkan oleh Pemkot Surabaya sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan SK Wali Kota No. 188.45/251/402.1.04/1996 bertanggal 26 September 1996.
Dia adalah patung Joko Dolog peninggalan dari Kerajaan Singosari.
Sampai kini, patung berwujud lelaki gemuk berkepala pelontos dengan posisi duduk bersila ala semedi itu masih berdiri megah di Jalan Taman Apsari, depan Gedung Negara Grahadi Surabaya.
Patung dengan tinggi 166 cm, lebar 138 cm dan tebal 105 cm itu konon aslinya ada di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Patung dari batu hitam ini konon dibuat oleh Empu Barada atau Empu Nada dari era Kerajaan Singosari pada tahun 1289 seperti termuat di prasasti Wurare.
Lantas bagaimana patung itu bisa berada di tengah Kota Surabaya?
Priyo Joko Sugiarto, juru kunci yang menjaga kompleks patung Joko Dolog mengatakan, patung ini pada mulanya ditemukan di Trowulan, Mojokerto, tepatnya di Dusun Kandang Gajah.
Namun patung ini dipercaya bukan asli dari Mojokerto dimana lokasi ia ditemukan pertama kali.
Priyo mengatakan, ada dua versi tentang asal usul patung yang merupakan perwujudan dari Raja Kertanegara, raja terakhir dari Kerajaan Singosari putra dari Raja Wisnu Wardhana.
“Ada yang bilang patung ini berasal dari Nganjuk, tepatnya di perbatasan Kediri, tapi orang-orang banyak yang mempercayai bahwa (patung) ini berasal dari Candi Jawi di Malang, dimana patung ini dipindahkan ke Majapahit atas perintah dari Raden Wijaya,” terang Priyo Joko Sugiarto, Senin (1/4).
Patung berwujud Budha Mahasobhya dari aliran Tantrayana ini telah ditetapkan sebagai objek cagar budaya oleh Pemerintah Surabaya.
Dimana selain dijadikan sebagai tempat beribadah, tempat ini juga dijadikan sebagai situs peninggalan sejarah tepatnya Kerajaan Singosari yang didirikan oleh Ken Arok yang bergelar Sri Ranggah Rajasa pada 1222.
Pada saat patung ini ditemukan di Trowulan, posisinya tertimbun di dalam tanah dan penuh oleh tumpukan kayu jati.
Ada cerita di balik mengapa patung ini ditimbun dan ditutupi oleh tumpukan kayu jati gelondongan besar yang seolah-olah seperti sedang disembunyikan.
Menurut sang juru kunci, ini terjadi ketika Kerajaan Majapahit mengalami masa sulit dan berada dimasa keruntuhan kejayaanya.
Sehingga patung ini harus diselamatkan oleh masyarakat yang kemudian diketahui lokasinya ada di dusun Kandang Gajah. Ini jugalah yang menjadi cikal bakal penamaan patung ini sebagai Joko Dolog.
“Dulu, patung ini ditemukan dengan posisi tertimbun tanah dan ditumpuk oleh kayu jati besar-besar, lalu orang yang menemukan menyebutnya jogo dolog, jogo yang berarti menjaga, dan dolog (kayu jati),” terang Joko Sugiarto.
Hingga patung ini sampai di Surabaya karena keinginan pemerintah kolonial Belanda yang berusaha untuk membawa barang-barang peninggalan kerajaan pada masa itu ke tanah lahir mereka di Negeri Belanda.
Beberapa peninggalan seperti patung-patung dan arca-arca telah berhasil mereka bawa dari Majapahit di Mojokerto ke Surabaya lewat jalur darat untuk kemudian diangkut dengan kapal-kapal VOC yang hendak meninggalkan wilayah Indonesia membawa hasil bumi dan aneka rampasan perang.
Namun, ada insiden pada kapal yang mengangkut patung Joko Dolog yang menyebabkan patung ini gagal dibawa Belanda dan kemudian disimpan di Taman Apsari yang dulu merupakan taman di sekitar Gedung Grahadi atau Kroesen Park yang tak lain adalah rumah dinas gazhegebber (letnan gubernur) Hindia Belanda di Jawa Timur.
“Patung ini bisa sampai di Surabaya karena barang-barang seperti ini (patung, arca, dan lain-lain) mau dibawa oleh Belanda melalui pelabuhan di Surabaya, namun ada masalah kebocoran pada kapal yang mengangkut patung Joko Dolog yang membuatnya diturunkan lagi oleh pihak Belanda,” tutur Sugiarto.
Namun, keberadaan patung ini memberikan keunikan tersendiri bagi Kota Pahlawan. Patung ini menjadi satu-satunya arca yang tersimpan di kota ini, sementara sebagian besar peninggalan sejarahnya berupa makam-makam dan bangunan gedung.
“Bisa dibilang ini adalah satu-satunya peninggalan berupa patung yang ada di Surabaya, karena kebanyakan peninggalan yang terkenal di Surabaya adalah makam-makam bersejarahnya,” ungkap Sugiarto.
Hingga saat ini, patung Joko Dolog masih terkenal di kalangan para wisatawan asing.
Rombongan turis kapal pesiar yang berlabuh di Surabaya kerap mengunjungi tempat ini sebagai salah satu lokasi tujuan mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Surabaya.
“Masih tetap jadi salah satu tujuan lokasi berkunjung oleh rombongan turis yang berlabuh di sini dari Pelabuhan Tanjung Perak,” ucap Sugiarto.
Terutama menjelang akhir tahun dan libur Natal serta Tahun Baru, Sugiarto menjelaskan para wisatawan akan berduyun-duyun mengunjungi tempat ini.
Mereka datang tidak hanya untuk melihat peninggalan sejarah yang terjaga dengan baik, namun juga ada yang mengunjungi tempat ini hanya untuk beribadah. Terlebih bagi turis dari Tibet, Thailand dan India.
“Banyak juga orang asing yang berkunjung ke sini hanya untuk beribadah, kebanyakan orang dari India, Tibet dan Thailand,” imbuh Sugiarto.
Ada pula wisatawan lokal yang memadati lokasi ini pada hari-hari tertentu seperti ketika Hari Raya Nyepi.
“Orang-orang lokal juga banyak yang kesini, banyak yang beribadah terutama setelah perayaan hari Raya Nyepi, tempat ini akan dipadati oleh wisatawan lokal yang kebanyakan berasal dari Bali,” pungkas Sugiarto.
Situs peninggalan sejarah Jaka Dolog, meskipun telah berusia ratusan tahun, masih memancarkan kelestarian yang mengagumkan.
Arca-arca kuno yang terdapat di situs ini menjadi saksi akan masa lalu yang kaya akan sejarah. Terlepas dari usianya yang sudah tua, situs ini dikelola dengan cermat dan dilindungi untuk memastikan keasliannya tetap terjaga.
Melalui perawatan yang baik, situs ini memberikan kesempatan kepada generasi sekarang dan mendatang untuk merenungkan dan menghargai warisan sejarah yang berharga ini. (mg3/rei/jay)
Editor : Jay Wijayanto