RADAR SURABAYA – Ada banyak jenis bubur yang beredar di Surabaya.
Yang paling terkenal dan banyak peminatnya di antaranya adalah bubur ayam dan bubur sumsum.
Makanan ini banyak ditemukan di sudut-sudut kota Pahlawan.
Untuk bubur ayam, biasanya banyak dijual ketika pagi hari.
Karena bubur ayam lazim dikonsumsi sebagai sarapan.
Nah, selain bubur ayam dan bubur sumsum ternyata juga ada bubur lainnya yang eksis di Surabaya.
Namanya bubur manggul. Bubur manggul merupakan salah satu makanan khas Madura.
Namun keberadaan penjual bubur manggul kini jarang ditemui.
Sekilas penampilan bubur manggul ini mirip bubur sumsum.
Namun faktanya perbedaannya sangat banyak.
Berbeda dengan bubur sumsum yang cenderung manis, bubur manggul memiliki cita rasa yang gurih.
Bahan baku utama dari bubur manggul adalah udang.
Selain itu yang membedakan bubur sumsum dengan bubur manggul adalah adanya lontong.
Sehingga, dengan adanya karbohidrat dan protein yang terkandung dalam bubur manggul, cocok untuk Anda yang sedang diet sehat.
Untuk membuat bubur manggul, selain udang, juga diperlukan bumbu dapur lainnya.
Cara pembuatannya yaitu dengan mencampurkan bahan bubur sumsum (tepung beras dan santan) dengan bumbu halus.
Bumbu halus dibuat dari udang, bawang merah, bawang putih, cabai merah besar, cabai keriting, lengkuas, kemiri, ketumbar, merica dan garam.
Penyajian bubur sumsum yaitu dengan lontong, bubur manggul di atasnya, dan bubuk kacang kedelai sebagai toping.
Selain itu, bisa juga diberi tambahan toping udang atau rebon.
Sumi, salah seorang penjual bubur manggul yang sudah berjualan selama 27 tahun, mengatakan bahwa terlepas dari pamor bubur manggul yang mulai turun, dirinya masih memiliki banyak pelanggan setia.
“Saya masak bubur manggul di siang hari, lalu berjualan keliling kampung sini setelah salat ashar. Biasanya selain beli bubur manggul, orang-orang juga beli ketan,” ujar wanita paruh baya tersebut.
Sumi mengaku bahwa dirinya tidak menemui kesulitan tertentu saat berjualan bubur manggul.
“Sulitnya sih ya kalau hujan dagangan saya jadi sepi pembeli. Selain itu ya aman-aman saja,” pungkasnya.
Di sisi lain, ia berharap bubur manggul bisa lebih tenar di kalangan masyarakat, terutama kaum muda.
Di sisi lain, Handoko, pelanggan setia bubur manggul menyayangkan semakin sedikitnya jumlah penjual bubur manggul.
“Dulu masih banyak yang jualan bubur manggul, apalagi di daerah Krembangan. Sekarang saya jarang nemu yang jual bubur manggul. Mungkin karena peminatnya berkurang. Maklum, anak muda sekarang mana tahu yang namanya bubur manggul,” jelas pria 46 tahun itu.
Meski demikian, penjual bubur manggul masih bisa ditemukan di area pemukiman atau pasar yang banyak dihuni etnis Madura.
Seperti di daerah Krembangan, Pasar PPI, dan Pasar Atom.
Bagi warga Surabaya yang tertarik mencobanya, penjual bubur manggul biasanya dapat ditemui saat pagi hari, sebagai salah satu menu sarapan. (nad/opi)
Editor : Nofilawati Anisa