Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Simbol-Simbol dan Keunikan di Masjid Cheng Hoo Surabaya, Masjid Tionghoa Pertama di Indonesia

Jay Wijayanto • Sabtu, 20 Januari 2024 | 00:28 WIB
CHENG HOO PERTAMA: Landskap Masjid Cheng Hoo di Jalan Gading No. 2 Surabaya yang mirip bangunan kelenteng.
CHENG HOO PERTAMA: Landskap Masjid Cheng Hoo di Jalan Gading No. 2 Surabaya yang mirip bangunan kelenteng.

SURABAYA – Masjid Cheng Hoo Surabaya didirikan oleh komunitas Tionghoa sebagai simbol akulturasi budaya dan persatuan yang mencerminkan kerukunan antarumat agama di Indonesia.

Masjid Cheng Hoo dinamai sesuai dengan nama seorang panglima angkatan laut yang juga penjelajah muslim asal Tiongkok, yakni Laksamana Cheng Hoo atau Zhang He.

Ia adalah perwira dari Kerajaan Yong Le dari Dinasti Ming di Yunnan, Tiongkok, yang pernah memimpin armada terbesar sepanjang sejarah dengan 200 kapal untuk muhibah atau ekspedisi mencari daerah baru di Nusantara pada abad ke-15.

Masjid Cheng Hoo yang berlokasi di Jalan Gading No. 2, Ketabang, Kecamatan Genteng, Surabaya, dibangun oleh komunitas Tionghoa muslim di Surabaya yang tergabung dalam Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) di bawah Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia Jawa Timur.

“Masjid ini mulai dibangun tahun 2001 dan selesai pada 13 Oktober 2002. Masjid ini diresmikan oleh Menteri Agama Said Agil Husin Al Munawar pada 28 Mei 2003, batu peresmiannya ada depan masjid pas itu,” ungkap Muhammad Ishaq, muadzin Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya, Jumat (19/1).

MERAH MENCOLOK: Aktivtas salat berjamaah di Masjid Cheng Hoo Surabaya.
MERAH MENCOLOK: Aktivtas salat berjamaah di Masjid Cheng Hoo Surabaya.

Sekilas, Masjid Cheng Hoo mirip bangunan kelenteng yang merupakan rumah ibadah warga Tionghoa. Warnanya dominan merah dengan kubah/atap bersusun/bertingkat mirip vihara.

Masjid yang didesain oleh arsitek bernama Ir Abdul Aziz, seorang tokoh PITI dari Bojonegoro, ini adalah Masjid ChengHoo pertama di Indonesia.

Bangunannya  berbentuk delapan sisi yang melambangkan Pat Kwa (keberuntungan atau kejayaan dalam bahasa Tiongkok).

Selain bentuknya yang sarat makna, luas bangunan utama masjid dengan ukuran 11 x 9 meter persegi juga penuh simbolisasi.

Angka sebelas (11) dimaknai sebagai ukuran kakbah di Makkah saat baru dibangun dan angka sembilan (9) melambangkan jumlah Wali Songo, penyebar Islam di Tanah Jawa.

Menurut arsiteknya, masjid ini memang dibangun mirip masjid kuno Niu Jie di Beijing, Tiongkok, yang berdiri tahun 996 Masehi.

Langgam Niu Jie yang diterapkan di Masjid Cheng Hoo ini tampak pada bagian puncak, atap utama, mahkota masjid, dan pintu masuk yang menyerupai sebuah pagoda.

Arsitektur masjid memang menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung. Dengan arsitektur khas Tiongkok yang dihiasi kaligrafi bercorak Islam di dinding-dindingnya, menciptakan desain yang harmonis yang mencerminkan integrasi unik antara budaya Tionghoa dan Islam.

“Masjid Cheng Hoo ini memang menyerap dari bangunan masjid kuno yang berada di Tiongkok. Bangunan ini disesuikan dengan bentuk arsitektur masjid yang berada di sana, yang ada corak-coraknya berbasis Tiongkok,” kata Muhammad Ishaq.

Pengelolaan masjid Cheng Hoo ini sepenuhnya dilakukan oleh komunitas muslim Tionghoa di Surabaya. “Karena memang mereka yang membangun dan masjid ini hasil dari ide mereka,” imbuh Ishaq.

KHAS TIONGHOA: Atap bersusun di masjid Cheng Hoo Surabaya dengan sentuhan ornamen khas ekor burung Sriti ala bangunan Pagoda atau kelenteng.
KHAS TIONGHOA: Atap bersusun di masjid Cheng Hoo Surabaya dengan sentuhan ornamen khas ekor burung Sriti ala bangunan Pagoda atau kelenteng.

Menariknya, Masjid Cheng Hoo tak hanya menjadi pusat peribadatan kaum muslim Tionghoa di Surabaya. Masjid dengan lapangan yang luas ini juga digunakan sebagai tempat pendidikan dan pengenalan seni dan kultur Tionghoa.

Inisiatif ini memberikan kontribusi positif dalam penyebaran Islam di kalangan Tionghoa sekaligus sebagai akulturasi budaya. Baik bagi masyarakat sekitar, maupun warga nusantara dan dunia yang lebih luas yang pernah berkunjung ke sini.

Keberhasilan masjid ini sebagai tempat perjumpaan antar beragam masyarakat menjadi bukti bahwa keberagaman bukanlah hambatan, melainkan kekayaan yang dapat mempersatukan.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya ini juga menyediakan fasilitas yang serumpun diantarnya, perlengkapan ibadah, tempat wudhu, tempay penitipan sepatu/sandal, taman bermain, toko souvenir, klinik akupuntur, lahan basket, gedung serbaguna hingga tempat pendidikan mulai tingkat PAUD /TK/SD.

Saat ini di seluruh Indonesia sudah berdiri sekitar 15 Masjid Cheng Hoo yang merupakan simbol eksistensi warga Tionghoa muslim di Nusantara. Di Jatim, Masjid Cheng Hoo antara lain berdiri di Surabaya (), Pandaan (Pasuruan), Jember dan Banyuwangi yang terbesar karena juga memiliki pesantren. (mg1/gus/jay)

Editor : Jay Wijayanto
#Tiongkok #tionghoa #masjid cheng hoo #akulturasi budaya