SURABAYA - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyatakan bahwa makanan seblak bisa diusulkan jadi warisan budaya tak benda ke Unesco (Badan PBB yang mengurusi bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan).
Hal ini disampaikan Kepala Sub Bagian Tata Usaha (Kasubag TU) Direktorat Perlindungan Kebudayaan Kemendikbudristek, Rusmiati. Ia menyatakan bahwa seblak adalah makanan asli Indonesia yang berasal dari Jawa Barat.
Seblak terbuat dari kerupuk yang direndam menggunakan air panas lalu dimasak dengan rempah-rempah seperti kencur, bawang putih, garam gula dan cabai sehingga memiliki cita rasa yang gurih dan pedas.
Sebenarnya tidak ada catatan pasti kapan pertamakali seblak ditemukan. Terdapat sejarah asal-usul seblak muncul karena kreasi dari masyarakat Sunda yang senang bereksplorasi dengan makanan berbahan tapioka. Seperti yang sudah ada yaitu cireng, cilok, cipak, cimol, dan masih banyak lagi.
Saat ini seblak telah banyak dimodifikasi isian atau topping-nya. Tak hanya kerupuk basah tetapi ada sayuran, telur, ayam, siomay, cilok, sosis, dumpling keju dan masih banyak lagi topping lainnya.
Level kepedasannya juga beragam, biasanya mulai dari level 0-10 sehingga makanan ini dapat dinikmati oleh orang yang suka atau bahkan tidak suka pedas sama sekali.
Kemendikbudristek mengusulkan seblak jadi warisan budaya tak benda karena makanan ini telah ada sejak lama dan tetap digemari sampai saat ini. Bahkan saat ini seblak seringkali menjadi trending topic di Indonesia.
Seperti Seblak Rafael yang viral belakangan ini. Seblak ini berbahan dasar kerupuk basah lalu dicampurkan dengan olahan cabai merah, cabai hijau, bawang putih, kencur, daun bawang dan minyak panas.
Lantas bagaimana pendapat dari penikmatnya tentang usulan Seblak jadi warisan budaya tak benda ke Unesco?
Eliza Qouturnada, salah satu penikmat seblak di Surabaya menyatakan setuju jika makanan kegemarannya itu diangkat jadi warisan budaya tak benda. "Kalau aku setuju sih, karena seblak itu rempah-rempahnya asli dari Indonesia yang tidak akan ditemui di negara lain," ujar mahasiswi kampus di Surabaya ini.
Berbeda dengan Eliza, Putri Alviana justru mengatakan dirinya kurang setuju jika seblak diangkat menjadi warisan budaya tak benda.
"Aku kurang setuju meskipun benar kalau rempah-rempah pada seblak belum tentu ada di negara lain. Seblak ini belum bisa dikatakan sebagai budaya karena di era modern saat ini semuanya itu mudah viral. Misalnya seblak rafael yang baru-baru ini viral. Kalau memang mau dijadikan warisan budaya tak benda harus benar-benar ada sejarah yang jelas," jelas , mahasiswi asal Surabaya ini.
Dari penjelasan beberapa penikmat tersebut, untuk mengangkat seblak menjadi warisan budaya tak benda ke Unesco memang sebuah rencana yang bagus. Namun, perlu diteliti lebih dalam lagi tentang asal usul dan sejarah yang sebenarnya dari makanan khas Sunda ini.
Seperti disampaikan Rusmiati, asal mula kuliner seblak ini perlu dikaji. Jika selama ini ada yang menyebut dari beberapa daerah seperti Garut dan Bandung, maka seblak bisa diusulkan menjadi kuliner daerah tingkat provinsi sebagai warisan budaya tak benda dari Provinsi Jawa Barat.
"Kalau misalkan inisiatornya Garut dengan Bandung, maka bisa ditarik menjadi Provinsi Jawa Barat, maka silahkan usulkan bagaimana sejarah seblak itu," tambah Rusmiati.
Selain itu jika kuliner seblak diusulkan menjadi warisan budaya, maka masih ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Di antaranya soal data pendukung seperti foto, video atau bukti fisik lain untuk menguatkan bukti bahwa seblak memang karya anak bangsa.
Proses pengusulan seblak sebagai warisan budaya pun harus dilakukan secara berkelompok dan bertahap. Dengan mengajukan usulan ke pemerintah daerah, kemudian provinsi, hingga dikaji tingkat nasional dan kemudian disampaikan ke badan PBB, Unesco. Semoga seblak bisa menjadi warisan budaya tak benda khas Indonesia sebagaimana kuliner rendang dan nasi krawu. (mg1/ind/jay)
Editor : Jay Wijayanto