Menteri UMKM Bentuk Komite Khusus, Riset Kampus Didorong Jadi Bisnis Nyata

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 21:40 WIB
Menteri UMKM Maman Abdurrahman (kiri) dan Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati saat mengunjungi tenant inovasi dalam Bursa Wirausaha Unggulan Jawa Timur 2026 di Gedung Pusat Robotika ITS.(Humas)
Menteri UMKM Maman Abdurrahman (kiri) dan Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati saat mengunjungi tenant inovasi dalam Bursa Wirausaha Unggulan Jawa Timur 2026 di Gedung Pusat Robotika ITS.(Humas)

RADAR SURABAYA – Pemerintah menyiapkan langkah khusus untuk mempercepat hilirisasi riset dan inovasi kampus agar tidak berhenti sebagai prototipe.

Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengatakan optimalisasi inkubator usaha menjadi salah satu kunci untuk mengubah hasil riset menjadi bisnis yang berkelanjutan.

Maman menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Bursa Wirausaha Unggulan Jawa Timur 2026 di Gedung Pusat Robotika ITS, Kamis (24/9).

Menurut Maman, percepatan transformasi peserta binaan menjadi usaha mandiri dan berkelanjutan penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menekan angka kemiskinan.

“Hal tersebut menjadi fokus kami dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan pengentasan kemiskinan,” ungkap Maman.

Inkubator Bisnis Jadi Penghubung Riset dan Industri

Maman menyoroti masih banyak inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi berhenti pada tahap prototipe.

Baca Juga: Indonesia Comeback! Tertinggal 0-2, China Ditekuk 3-2 di Final Beregu Bulutangkis Asian Games 2026

Padahal, hasil riset tersebut berpotensi dikembangkan menjadi produk komersial dan menciptakan nilai ekonomi.

Karena itu, lembaga inkubator usaha dinilai memiliki peran penting untuk mendampingi inovator sejak tahap pengembangan produk hingga memasuki pasar.

“Perlu juga dilakukan optimalisasi peran lembaga inkubator guna memantau, mengevaluasi, serta memberdayakan perusahaan rintisan (startup) dan UMKM potensial di berbagai daerah,” ujarnya.

Untuk memperkuat mekanisme pembinaan tersebut, Kementerian UMKM berencana membentuk komite pemantauan khusus di bawah Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat.

Komite tersebut diarahkan untuk memastikan proses pembinaan berjalan secara terukur. Pemerintah juga berencana memperketat perlindungan pasar domestik agar produk-produk lokal memiliki ruang lebih besar di pasar nasional.

“Perlindungan pasar domestik juga kami perketat agar produk lokal dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” imbuh Maman.

ITS Perkuat Ekosistem UMKM Berbasis Teknologi

Rektor ITS Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati mengatakan Jawa Timur memiliki jutaan unit usaha dan koperasi sehingga menjadi salah satu gerbang penting perekonomian nasional.

ITS, lanjut dia, turut memperkuat kapasitas teknologi, inovasi, dan daya saing pelaku usaha melalui berbagai program kolaborasi.

Baca Juga: KPK Geledah Kanwil ATR/BPN Jatim selama 9 Jam

“Beberapa di antaranya One Pesantren One Product (OPOP), penyediaan desain kemasan gratis, hingga pembekalan ribuan pelajar dengan keterampilan wirausaha,” papar Bambang.

Setiap tahun, ITS juga membina puluhan perusahaan rintisan melalui Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST).

Kolaborasi tersebut menjadikan ITS sebagai salah satu mitra strategis pemerintah dalam mendorong pengembangan UMKM berbasis teknologi tinggi.

Bambang menegaskan komitmen ITS untuk mendukung peningkatan kelas UMKM sehingga dapat menjadi salah satu pilar kemandirian ekonomi bangsa.

“Dukungan dari perguruan tinggi, pemerintah, dan industri diharapkan dapat terus bersinergi dalam menyediakan pasar yang luas bagi para wirausahawan baru,” tuturnya.

Dua Startup ITS Pamerkan Inovasi

Bursa Wirausaha Unggulan Jawa Timur 2026 juga menjadi panggung bagi dua startup binaan Inkubator Layanan Bisnis Inovatif (ILBI) ITS untuk memperkenalkan produk unggulan mereka.

Salah satunya Vityuu, produk berbentuk semprotan yang ditujukan untuk membantu menekan keinginan mengonsumsi makanan manis.

Produk berbahan tanaman Gymnema sylvestre tersebut dikembangkan oleh tiga mahasiswa Manajemen Bisnis ITS.

Vityuu dikembangkan sebagai bagian dari inovasi di bidang kesehatan dengan konsep ekosistem kesehatan terintegrasi.

Startup lainnya adalah IncludeVision, solusi berbasis kecerdasan buatan yang mengolah rekaman CCTV menjadi data analisis.

Teknologi yang dikembangkan dua mahasiswa Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC) ITS tersebut ditujukan untuk membantu optimalisasi manajemen fasilitas.

Teknologi itu diklaim mampu menekan biaya operasional hingga 60 persen.

Kehadiran dua startup tersebut menunjukkan bagaimana ekosistem inkubator perguruan tinggi dapat menjadi jembatan antara riset, inovasi, pengembangan produk, hingga bisnis.

Dengan penguatan inkubator dan dukungan pemerintah, hasil riset kampus diharapkan tidak lagi berhenti di laboratorium, tetapi mampu berkembang menjadi usaha yang memiliki pasar dan memberikan dampak ekonomi.(rmt) 

 

 

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
maman Abdurrahman Menteri UMKM its jatim