Bos Teknologi Minta Pengembangan AI Diperlambat, Ada Apa?

Rahmat Adhy Kurniawan • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 07:57 WIB
Ilustrasi Gemini AI.
Ilustrasi Gemini AI.

RADAR SURABAYA – Seruan agar pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) diperlambat mulai mengguncang pasar saham Amerika Serikat. 

Saham Nvidia Corp. dan Broadcom Inc. mengalami tekanan tajam hingga menyeret indeks semikonduktor turun 5,9 persen.

Kekhawatiran investor muncul setelah sejumlah tokoh dan peneliti teknologi mendorong perlambatan pengembangan model AI paling canggih.

Mereka menilai perkembangan AI perlu dikendalikan agar teknologi tersebut tidak berkembang di luar kendali manusia dan menimbulkan risiko besar.

Tekanan terhadap saham teknologi terlihat jelas di bursa AS. Indeks Nasdaq 100 tercatat turun 0,8 persen.

Saham perusahaan yang berkaitan dengan rantai pasok AI turut mendapat tekanan karena investor mulai mempertanyakan prospek investasi dan keuntungan dari ledakan teknologi AI.

Di tengah sentimen tersebut, harga minyak mentah Brent menembus US$105 per barel.

Baca Juga: Como Kalahkan Parma 2-1, Statistik Tegaskan Dominasi Usai Debut Liga Champions

Kenaikan harga minyak menambah kekhawatiran terhadap inflasi menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun juga berada di sekitar 5 persen.

Pengembangan AI Dinilai Perlu Diperlambat

Seruan pengembangan teknologi AI harus diperlambat salah satunya datang dari CEO Anthropic PBC Dario Amodei.

Dalam unggahan blog, Amodei menyatakan pengembangan sistem AI paling canggih perlu diperlambat untuk mencegah teknologi tersebut lepas dari kendali manusia.

Seruan itu mendapat dukungan dari sejumlah tokoh teknologi, termasuk CEO OpenAI Sam Altman dan CEO SpaceX Elon Musk.

Perkembangan tersebut memunculkan kekhawatiran baru di kalangan investor.

Jika perlambatan pengembangan AI membuat realisasi keuntungan dari investasi teknologi tersebut tertunda, antusiasme pasar terhadap saham-saham AI berpotensi menurun.

"Jika perkembangan terbaru ini menunda waktu realisasi imbal hasil AI yang dijanjikan, wajar jika investor menjadi kurang antusias," kata Matt Maley dari Miller Tabak.

Giuseppe Sette dari Reflexivity menilai kesepakatan antara Amodei, Altman, dan Musk untuk mendorong perlambatan pengembangan AI merupakan sesuatu yang tidak biasa.

Investor Masih Optimistis terhadap AI

Meski muncul kekhawatiran mengenai perkembangan AI, sebagian analis menilai tekanan terhadap saham teknologi tersebut belum tentu menandai berakhirnya tren investasi AI.

Baca Juga: Musik Daul Pamekasan Resmi Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia, Upaya Pelestarian Diperkuat

Sette bahkan melihat koreksi harga saham AI sebagai peluang untuk melakukan pembelian.

Analis Bank of America Corp. Justin Post dan Nitin Bansal mengatakan kekhawatiran mengenai penerapan AI dapat memberikan dampak negatif terhadap sentimen di sepanjang rantai nilai AI.

Namun, mereka tetap melihat permintaan terhadap kapasitas AI akan kuat dalam beberapa tahun mendatang.

Pandangan serupa disampaikan Max Kettner dari HSBC. Ia menilai kekhawatiran terhadap seruan perlambatan pengembangan AI saat ini terlalu dibesar-besarkan.

Menurut Kettner, perlambatan pengembangan model AI canggih justru berpotensi membantu meningkatkan profitabilitas perusahaan AI dalam jangka panjang.

"Apakah seruan untuk memperlambat pengembangan model canggih akan mendapat dukungan di seluruh industri masih belum pasti," ujarnya.

Namun, ia menilai seruan tersebut kemungkinan lebih diarahkan untuk membentuk kerangka regulasi yang dapat diterima oleh laboratorium AI terkemuka.

Dengan demikian, investasi di bidang AI diperkirakan masih akan berlanjut.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menolak gagasan pembatasan baru terhadap pengembangan AI.

Trump bahkan mengkritik pihak yang menyerukan perlambatan pengembangan teknologi tersebut.

Perdebatan mengenai seberapa cepat AI harus dikembangkan kini menjadi salah satu perhatian penting pasar.

 Bagi investor, persoalannya bukan hanya mengenai potensi keuntungan AI, tetapi juga risiko regulasi, keamanan, dan keberlanjutan investasi di sektor teknologi tersebut.

 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
Sumber : bloomberg
Pengembangan AI Broadcom Saham Teknologi nvidia