Honda Super One Laris Dipesan, Kuota Jatim Hanya 10 Unit

Mus Purmadani • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 17:10 WIB
UNGGULAN: Presdir Honda Prospek motor Masanao Katanya (dua dari kiri) bersama presdir Hinda Surabaya center Ang Hoey Tiong ( kiri), direktur Sales & marketing and after sales HPM Yusak Billy (dua dari kanan) dan direktur HSC Wendy Mihardja saat mengunjungi both Honda di GIIAS surabaya.(ABDULLAH MUNIR/RADAR SURABAYA)
UNGGULAN: Presdir Honda Prospek motor Masanao Katanya (dua dari kiri) bersama presdir Hinda Surabaya center Ang Hoey Tiong ( kiri), direktur Sales & marketing and after sales HPM Yusak Billy (dua dari kanan) dan direktur HSC Wendy Mihardja saat mengunjungi both Honda di GIIAS surabaya.(ABDULLAH MUNIR/RADAR SURABAYA)

RADAR SURABAYA – Honda Super One mendapat sambutan positif dari konsumen Indonesia. Meski hanya dialokasikan sebanyak 100 unit untuk pasar nasional hingga akhir tahun, jumlah pemesanan mobil listrik kompak tersebut telah menembus lebih dari 180 unit.

Sales & Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM) Yusak Billy mengatakan, tingginya permintaan tersebut membuat Honda terus berkoordinasi dengan prinsipal untuk melihat kemungkinan penambahan alokasi.

“Di Jepang itu pemesanan sudah 12.000 lebih sejak dua bulan diluncurkan. Kita juga bersyukur bisa dapat 100 alokasi. Kalau kita lihat negara lain, alokasinya di bawah kita,” ujar Yusak Billy saat di GIIAS Surabaya 2026, Sabtu (29/8). 

Dari total 100 unit alokasi nasional tersebut, Jawa Timur mendapatkan kuota sebanyak 10 unit. Namun, kuota tersebut telah habis dipesan. Bahkan, pemesanan yang masuk secara nasional kini telah mencapai lebih dari 180 unit. “Dari 100 itu sudah habis. Pemesanan sudah 180 lebih,” katanya.

Yusak menjelaskan, Honda Super One bukan disiapkan sebagai tulang punggung penjualan. Kehadiran mobil listrik tersebut lebih ditujukan untuk menunjukkan perkembangan teknologi Honda sekaligus menjadi gambaran arah evolusi produk Honda di masa depan.

“Bagi kami Super One itu bukan backbone untuk penjualan. Kami hanya ingin menunjukkan kalau Honda selalu berevolusi mengikuti perkembangan teknologi,” jelasnya.

Menurut dia, meski teknologi kendaraan Honda terus berkembang, DNA produk Honda tetap dipertahankan, yakni memberikan pengalaman berkendara yang menyenangkan.

“Semua DNA-nya Honda itu sama, yaitu joy of driving, fun to drive. Semua model Honda sama, walaupun teknologinya berbeda-beda,” imbuhnya.

Kehadiran Super One juga menjadi bagian dari semangat Honda melalui tema Culture. Evolved. Honda ingin menunjukkan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV), terus menjadi bagian dari evolusi perusahaan.

Namun, Yusak menegaskan, Honda tidak serta-merta akan mengalihkan seluruh modelnya ke teknologi listrik. Setiap produk dan teknologi akan disesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik pasar masing-masing negara.

“Produk yang relevan apa sih? Teknologi itu berbeda-beda. Bisa saja produk ini elektrifikasi, produk ini hybrid, produk ini ICE. Kita lihat dari produk apa yang relevan di tiap negara,” tuturnya.

 

Sementara itu, tingginya permintaan terhadap produk eksklusif Honda juga terjadi pada Honda Prelude. Yusak menyebut penjualan Prelude secara nasional telah mencapai lebih dari 350 unit, jauh melampaui alokasi awal tahun ini yang hanya sekitar 150 unit.

“Kita request terus ke pusat untuk mendapatkan kuota lebih karena permintaannya sangat banyak,” ujarnya.

Meski demikian, Yusak membantah jika tingginya permintaan terhadap Super One dan Prelude menandakan Honda akan mengubah strategi dengan lebih banyak menghadirkan produk berstatus terbatas. “Enggak. Kita selalu meluncurkan suatu produk yang relevan untuk konsumen,” tegasnya.

Di sisi lain, Honda masih mengandalkan produk yang memiliki volume penjualan tinggi untuk menopang bisnis di Indonesia. Salah satunya Honda Brio yang hingga kini berkontribusi sekitar 50 persen terhadap penjualan Honda.

Yusak mengatakan, meski pasar city car dan Low Cost Green Car (LCGC) mengalami kontraksi, Honda melihat kebutuhan terhadap kendaraan di segmen tersebut masih tetap ada. Terutama karena mayoritas konsumen LCGC merupakan pembeli mobil pertama atau first time buyer.

“LCGC itu 70 persen kebanyakan dari first time buyer. First time buyer masih banyak. Mereka ingin peace of mind, ingin senang dalam membeli, merawat, sampai menjual kendaraan,” katanya.

Karena itu, Honda tidak hanya mengandalkan penyegaran produk, tetapi juga memperkuat layanan purnajual atau after sales. Strategi tersebut dinilai penting untuk menjaga kenyamanan dan rasa aman konsumen sepanjang kepemilikan kendaraan.

“Kita akan melakukan refreshment. Tapi penguatan di after sales juga salah satu strategi kami supaya konsumen yang memiliki kendaraan Honda tetap nyaman dan aman,” pungkasnya. (mus/gun)

 

Editor : Guntur Irianto
Sumber : radar surabaya
honda mobil berita otomotif surabaya terbaru giias produk