RADAR SURABAYA – Inovasi teknologi kembali hadir untuk membantu petani tembakau mengatasi persoalan pengeringan yang selama ini bergantung pada kondisi cuaca.
Mahasiswi Departemen Teknik Instrumentasi, Ishmatu Aulia Rizky Kirana, mengembangkan AutoDry Boost, alat pengering tembakau otomatis yang mampu memangkas waktu pengeringan secara signifikan.
AutoDry Boost merupakan singkatan dari Autonomous Drying Acceleration System for Post-Harvest Processing.
Teknologi tersebut dirancang sebagai solusi atas metode pengeringan tembakau konvensional yang masih mengandalkan sinar matahari.
Pengeringan Tembakau Konvensional Bergantung Cuaca
Aulia menjelaskan, metode konvensional membuat proses pengeringan tembakau membutuhkan waktu cukup lama.
Dalam kondisi normal, pengeringan dapat berlangsung selama 6–12 hari.
Ketergantungan terhadap cuaca juga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi. Menurut Aulia, kondisi tersebut dapat menyebabkan kerugian hingga 30 persen per panen.
“Padahal, produksi tembakau di Indonesia tergolong tinggi, mencapai 238.800 ton pada 2023 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS),” jelas Aulia, Rabu (26/8).
Baca Juga: Cegah Hepatitis B Menular ke Bayi, Perlindungan Ganda HB0 dan HBIG Jadi Kunci
Kondisi tersebut mendorong Aulia mengembangkan teknologi pengeringan yang lebih cepat, terkontrol, dan efisien.
AutoDry Boost Gunakan Sistem Pengering Udara Panas
AutoDry Boost memanfaatkan teknologi hot air drying atau pengeringan menggunakan udara panas dengan sistem kontrol otomatis terintegrasi.
Perangkat tersebut dilengkapi blower heater, panel kontrol, tiga unit kipas pembuangan, serta sensor suhu PT-100.
Sensor tersebut berfungsi menjaga suhu pengeringan tetap stabil pada kisaran 69–71 derajat Celsius.
Tidak hanya mengandalkan pengaturan suhu, AutoDry Boost juga menggunakan sensor load cell.
Sensor ini berfungsi memantau perubahan berat daun tembakau selama proses pengeringan.
“Ini mengintegrasikan sensor load cell untuk mengukur penurunan massa guna mengestimasi penurunan kadar air hingga mencapai kondisi optimal,” terang Aulia.
Dengan sistem tersebut, proses pengeringan dapat dipantau berdasarkan perubahan massa bahan sehingga kadar air tembakau dapat diarahkan menuju kondisi yang optimal.
100 Kg Tembakau Bisa Kering dalam 2–3 Jam
Salah satu keunggulan utama AutoDry Boost terletak pada efisiensi waktu. Jika metode konvensional membutuhkan waktu hingga 6–12 hari, teknologi ini diklaim mampu mengeringkan 100 kilogram tembakau hanya dalam 2–3 jam.
Selain mempercepat proses produksi, inovasi tersebut juga memiliki potensi memberikan dampak ekonomi bagi petani.
Baca Juga: Krisis Ekologis Kian Mengancam, AIPI, UKWMS, dan BPIP Soroti Pentingnya Adab terhadap Alam
Aulia memaparkan, penggunaan AutoDry Boost dapat menghemat biaya operasional hingga 54,8 persen.
Teknologi ini juga berpotensi mengurangi limbah akibat pembusukan hasil panen hingga 30 persen.
Dari sisi kapasitas produksi, penggunaan alat tersebut diproyeksikan mampu meningkatkan kapasitas dari 1,5 ton menjadi 4 ton per musim.
“Dampak ini diperkirakan juga berimbas pada kenaikan pendapatan bersih petani serta peningkatan kapasitas penjualan tembakau kering,” ungkapnya.
Tantangan Pengembangan Teknologi Pengering Tembakau
Meski menawarkan sejumlah keunggulan, Aulia menyadari penerapan AutoDry Boost masih menghadapi beberapa tantangan.
Di antaranya adalah kebutuhan adaptasi terhadap teknologi, modal awal pengadaan alat, serta ketergantungan terhadap energi fosil.
Karena itu, Aulia menyiapkan peta jalan pengembangan secara bertahap. Pengembangan tersebut diharapkan dapat menyempurnakan teknologi sekaligus meningkatkan manfaat AutoDry Boost bagi petani tembakau.
Inovasi ini menjadi salah satu contoh pemanfaatan teknologi instrumentasi untuk menjawab persoalan pascapanen.
Dengan proses pengeringan yang lebih cepat dan terkontrol, AutoDry Boost berpotensi meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menekan risiko kerugian akibat faktor cuaca. (rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan