ITS Uji Alat Pendeteksi Gempa dan Bangunan Tahan Gempa Berbiaya Rendah

Rahmat Sudrajat • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 18:25 WIB
Pemantauan demonstrasi guncangan gempa pada prototipe bangunan tahan gempa melalui situs insamo.id.
Pemantauan demonstrasi guncangan gempa pada prototipe bangunan tahan gempa melalui situs insamo.id.

RADAR SURABAYA – Pascagempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT), kebutuhan penguatan sistem mitigasi bencana di Indonesia semakin mendesak.

 Menjawab tantangan tersebut, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melakukan uji coba alat pendeteksi gempa sekaligus prototipe bangunan tahan gempa berbiaya rendah yang berpotensi diterapkan di lingkungan permukiman warga.

Inovasi mitigasi bencana tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas departemen di ITS bersama mitra industri. 

Teknologi yang dikembangkan diharapkan dapat membantu masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempa bumi, terutama di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi.

Wakil Kepala Pusat Studi Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS, Dr. Ir. Berlian Al Kindhi, S.S.T., M.T., mengatakan pengembangan inovasi tersebut menjadi salah satu kontribusi nyata ITS dalam memperkuat sistem mitigasi bencana di Indonesia.

Baca Juga: Libur Maulid Nabi, KAI Daop 8 Surabaya Prediksi Layani 162 Ribu Penumpang

Alat pendeteksi gempa yang dikembangkan berbasis mikrokontroler mampu mendeteksi getaran tanah secara waktu nyata (real-time). 

Ketika sensor menangkap getaran yang melebihi ambang batas, sistem akan secara otomatis mengirimkan notifikasi sekaligus mengaktifkan alarm peringatan.

Keunggulan lain dari alat tersebut adalah kemampuannya menyediakan data geolokasi dan riwayat kejadian yang dapat dipantau melalui situs insamo.id.

Sistem yang sama juga berpotensi digunakan untuk memantau ketinggian air sebagai bagian dari mitigasi banjir dan tanah longsor.

“Sensor ini berbiaya rendah sehingga dapat dikembangkan dan diaplikasikan di berbagai rumah penduduk,” ujar Berlian, Minggu (23/8).

Selain mengembangkan teknologi pendeteksi gempa, ITS juga melakukan inovasi di bidang konstruksi bangunan tahan gempa.

Dosen Departemen Teknik Sipil ITS, Ahmad Basshofi Habieb, S.T., M.T., Ph.D., mengatakan sebagian besar korban dan kerusakan akibat gempa terjadi di lingkungan hunian masyarakat.

Karena itu, tim peneliti ITS mengembangkan prototipe bangunan tahan gempa dua lantai yang dirancang menyerupai tipe hunian umum masyarakat.

Baca Juga: Dari PMI Jadi Pengusaha Sukses di Taiwan, Nasabah BRI Sri Purwanti Bangun Bisnis Kuliner Halal Cita

“Prototipe ini diharapkan menjadi solusi untuk membangun rumah dan permukiman yang lebih aman saat terjadi gempa,” ujar Basshofi.

Bangunan tersebut menggunakan sistem base isolator yang berfungsi memisahkan pergerakan tanah dari struktur utama bangunan.

Dengan sistem tersebut, bangunan dapat bergerak secara lebih terkontrol ketika menerima guncangan gempa.

Dinding bangunan menggunakan hebel yang lebih tebal dengan struktur bagian atas tanpa rangka beton bertulang.

Konsep ini dirancang untuk menekan biaya pembangunan tanpa mengabaikan kekuatan dan keamanan struktur.

Basshofi berharap inovasi alat pendeteksi gempa dan prototipe bangunan tahan gempa tersebut dapat segera diterapkan secara lebih luas, terutama di daerah rawan gempa seperti NTT.

“Saya berharap hasil penelitian ini dapat segera diimplementasikan agar dampak akibat gempa yang kerap terjadi di Indonesia dapat diminimalkan,” tuturnya.

Pengembangan alat pendeteksi gempa berbiaya rendah dan bangunan tahan gempa tersebut menegaskan komitmen ITS dalam memperkuat mitigasi bencana nasional.

Inovasi ini juga diharapkan dapat mendorong lahirnya solusi teknologi yang lebih terjangkau bagi masyarakat untuk menciptakan lingkungan hunian yang aman dan tangguh menghadapi bencana.(rmt) 

 

Editor : Rahmat Adhy Kurniawan
alat pendeteksi gempa teknologi mitigasi bencana its surabaya