RADAR SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menghadirkan inovasi di bidang teknologi kelautan.
Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS, Prof. Ir. Silvianita, S.T., M.Sc., Ph.D., mengembangkan dua metode pengelolaan risiko, Methodology for Investigation of Critical Hazards (MIVTA) dan Methodology for Investigation of Risk-Based Maintenance (MIRBA), untuk meningkatkan keselamatan dan keandalan infrastruktur maritim nasional.
Inovasi tersebut hadir sebagai solusi atas tingginya risiko kecelakaan kerja dan kegagalan proyek yang masih menjadi tantangan utama di sektor maritim dan migas lepas pantai.
Kedua metode ini dirancang untuk membantu industri mengidentifikasi potensi bahaya sejak tahap perencanaan hingga menentukan strategi mitigasi yang paling efektif.
"MIVTA digunakan untuk menemukan potensi bahaya sejak dini, sedangkan MIRBA membantu menentukan langkah mitigasi yang paling tepat agar risiko kecelakaan dapat diminimalkan," ujar Silvianita, Jumat (26/6).
MIVTA Identifikasi Bahaya Sejak Tahap Awal
Metode MIVTA bekerja dengan mengidentifikasi potensi bahaya pada setiap tahapan operasi, menelusuri akar penyebab, serta menganalisis tingkat kemungkinan dan dampak yang dapat ditimbulkan.
Untuk meningkatkan akurasi, metode ini memanfaatkan pendekatan Fuzzy Logic, yang mampu mengolah kondisi lapangan yang penuh ketidakpastian menjadi informasi yang lebih objektif.
"Dengan pendekatan ini, kita dapat menangkap berbagai ketidakpastian di lapangan yang selama ini sulit dikuantifikasi.
Setiap potensi bahaya kemudian diprioritaskan berdasarkan tingkat frekuensi dan tingkat keparahannya," jelas guru besar perempuan pertama FTK ITS tersebut.
MIRBA Bantu Tentukan Strategi Perawatan Berbasis Risiko
Setelah potensi bahaya teridentifikasi melalui MIVTA, hasil analisis kemudian diproses menggunakan MIRBA.
Metode ini mengintegrasikan berbagai pendekatan analisis untuk menyusun strategi pemeliharaan dan pencegahan yang sesuai dengan tingkat risiko.
Dengan demikian, MIVTA dan MIRBA tidak hanya menjadi alat analisis, tetapi juga berfungsi sebagai sistem pendukung pengambilan keputusan agar setiap langkah operasional lebih aman, efisien, dan terukur.
Silvianita menegaskan bahwa manajemen risiko harus menjadi bagian dari strategi utama organisasi, bukan sekadar memenuhi aspek administrasi.
"Manajemen risiko harus menjadi bagian penting dalam strategi organisasi agar setiap keputusan yang diambil mampu meningkatkan keselamatan, keandalan, dan keberlanjutan infrastruktur maritim," tegasnya.
Terbukti Efektif Tekan Risiko Kecelakaan
Kedua metode tersebut telah diuji pada proses pemindahan anjungan lepas pantai ke kapal pengangkut (load-out), salah satu tahapan dengan tingkat risiko tertinggi dalam industri migas lepas pantai.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem mampu mengidentifikasi risiko-risiko kritis sejak tahap perencanaan sehingga potensi kecelakaan kerja, kerusakan fasilitas, hingga kegagalan operasional dapat ditekan secara signifikan.
Baca Juga: Radar Surabaya Award 2026 Apresiasi Wakil Rakyat yang Dekat dengan Masyarakat
Keberhasilan tersebut membuka peluang bagi industri maritim nasional untuk menerapkan sistem manajemen risiko yang lebih modern, akurat, dan berbasis data dalam mendukung keselamatan kerja.
Dukung Pencapaian SDGs
Inovasi MIVTA dan MIRBA juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, Tujuan 9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta Tujuan 14 tentang Ekosistem Laut.
Silvianita berharap metode yang dikembangkannya dapat diadopsi secara luas oleh industri minyak dan gas maupun sektor
maritim Indonesia untuk memperkuat budaya keselamatan kerja serta meningkatkan daya saing industri nasional.
"Manajemen risiko bukan hanya tentang menghindari kecelakaan, tetapi memastikan setiap keputusan menghasilkan operasi yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan," pungkasnya. (rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan