RADAR SURABAYA – Inovasi energi hijau terus berkembang di Indonesia. Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof. Dr.-Ing. Doty Dewi Risanti, S.T., M.T., berhasil mengembangkan teknologi yang mampu mengubah limbah aluminium menjadi gas hidrogen yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber listrik berkelanjutan.
Terobosan ini dinilai sebagai langkah strategis dalam menjawab tantangan krisis energi sekaligus mengurangi dampak limbah industri logam yang selama ini menjadi persoalan lingkungan.
Dorong Transisi Energi Bersih Berbasis Ekonomi Sirkular
Doty menjelaskan, ketergantungan pada energi konvensional masih menimbulkan dampak ekologis yang signifikan.
Di sisi lain, proses daur ulang yang belum optimal juga menyebabkan penurunan kualitas material serta peningkatan limbah industri.
“Sumber energi konvensional telah banyak menimbulkan kerugian ekologis. Ketergantungan pada bahan baku primer juga mempercepat penipisan sumber daya,” ujarnya.
Melalui pendekatan ekonomi sirkular, limbah aluminium tidak lagi dipandang sebagai residu, melainkan sumber daya baru yang dapat diolah kembali menjadi energi.
Ubah Aluminium Jadi Hidrogen untuk Pembangkit Listrik
Dalam risetnya, limbah aluminium dimanfaatkan melalui reaksi dengan air untuk menghasilkan gas hidrogen.
Gas tersebut kemudian dapat digunakan sebagai sumber energi listrik yang lebih ramah lingkungan.
Aluminium dipilih karena memiliki kerapatan energi tinggi, mudah didaur ulang, serta tersedia melimpah secara global.
Namun, tantangan utama terletak pada lapisan oksida alami yang menghambat reaksi.
Untuk mengatasi hal ini, tim peneliti mengembangkan pendekatan termodinamika, modifikasi permukaan aluminium, dan pengendalian reaksi agar lebih efisien dan stabil.
Gunakan Teknologi Biomimetik dan Kendali Suhu
Salah satu inovasi kunci dalam penelitian ini adalah penggunaan prinsip inverse biomimetic lotus effect untuk memodifikasi permukaan aluminium agar reaksi tetap optimal.
Selain itu, metode co-solvent juga diterapkan untuk mengendalikan suhu reaksi sehingga produksi hidrogen menjadi lebih stabil.
“Kami berupaya memastikan proses berlangsung stabil, efisien, dan dapat diterapkan secara berkelanjutan,” kata Doty.
Kolaborasi Internasional dan Industri
Penelitian ini turut melibatkan kolaborasi dengan University of Exeter (Inggris), Universitas Kristen Petra Surabaya, serta sejumlah mitra industri seperti Aeramine Ltd, Gringgo Indonesia, dan PLN Nusa Power.
Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan teknologi menuju tahap implementasi industri.
Dukung SDGs dan Ketahanan Energi Nasional
Inovasi ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-7 tentang energi bersih dan terjangkau, serta poin ke-9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur.
Doty berharap teknologi ini dapat diterapkan lebih luas untuk mendukung transisi energi nasional.
“Kami berharap konsep daur ulang berbasis sirkularitas ini dapat diimplementasikan secara nyata demi keberlanjutan lingkungan dan ketahanan energi,” ujarnya.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan