RADAR SURABAYA — Mahasiswa Departemen Teknik Geomatika (DTG) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan inovasi sistem pemetaan digital berbasis web geographic information system (WebGIS) bernama Subtrack.
Sistem ini dirancang untuk memetakan wilayah yang terdampak penurunan tanah (land subsidence), risiko banjir, hingga tekanan lalu lintas kendaraan berat di Kota Surabaya.
Inovasi ini menjadi salah satu upaya akademik dalam menjawab tantangan lingkungan perkotaan, khususnya di kawasan pesisir yang semakin rentan terhadap perubahan permukaan tanah dan genangan air.
Tiga Peta Utama untuk Identifikasi Risiko Perkotaan
Penelitian Subtrack menghasilkan tiga produk utama, yakni peta laju penurunan tanah Kota Surabaya, peta risiko banjir Kelurahan Tanjung Perak, serta aplikasi WebGIS
interaktif yang dapat digunakan untuk menentukan zona prioritas perbaikan infrastruktur.
Ketiga peta tersebut diharapkan menjadi dasar analisis dalam perencanaan pembangunan kota yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan.
Penurunan Tanah di Surabaya Capai 6,1 mm per Tahun
Ketua Kelompok 9 Kemah Kerja Tematik DTG ITS, Jalesveva Ananda Khozin atau yang akrab disapa Veva, menjelaskan bahwa fenomena penurunan tanah di Surabaya dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi geologi dan aktivitas manusia.
Di kawasan Kelurahan Tanjung Perak, penurunan tanah turut dipicu oleh pemadatan tanah akibat curah hujan serta beban kendaraan berat yang melintas setiap hari.
“Dari data InSAR, laju penurunan tanah di Kota Surabaya mencapai sekitar 6,1 milimeter per tahun, dengan konsentrasi terbesar berada di wilayah barat dan utara,” ujarnya, Kamis (11/6).
Teknologi Satelit Sentinel-1 dan Analisis SBAS
Untuk menghasilkan data yang akurat, tim memanfaatkan citra deformasi permukaan tanah dari satelit Sentinel-1 yang dilengkapi sensor synthetic aperture radar (SAR) C-band.
Teknologi ini memungkinkan pengukuran perubahan permukaan tanah hingga skala milimeter tanpa terpengaruh kondisi cuaca maupun waktu.
Baca Juga: Perbanas Optimistis Perbankan Nasional Tetap Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi
Data yang dikumpulkan dalam periode 2016–2025 kemudian diolah menggunakan perangkat lunak LiCSBAS dengan metode small baseline subset (SBAS) untuk memetakan perubahan permukaan tanah secara detail.
Pemodelan Risiko Banjir hingga Analisis Lalu Lintas
Selain analisis penurunan tanah, tim juga melakukan pemodelan risiko banjir dua dimensi menggunakan perangkat lunak HEC-RAS 2D.
Data curah hujan diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sedangkan data topografi berasal dari pemindaian light detection and ranging (LiDAR).
Sebagai tambahan, tim juga melakukan observasi langsung untuk menghitung intensitas kendaraan berat yang melintas di kawasan penelitian.
“Pengambilan data jumlah kendaraan dilakukan selama dua jam setiap hari selama tujuh hari berturut-turut,” kata Veva.
Integrasi Data dengan ArcGIS Pro
Seluruh data yang terkumpul kemudian diintegrasikan menggunakan metode weighted overlay dan analytical hierarchy process (AHP) melalui perangkat lunak ArcGIS Pro.
Hasilnya berupa peta zona prioritas penanganan infrastruktur yang mempertimbangkan berbagai faktor risiko secara komprehensif.
Harapan untuk Perencanaan Kota Berkelanjutan
Dengan hadirnya sistem Subtrack, tim berharap masyarakat dan pemangku kebijakan dapat lebih waspada terhadap risiko lingkungan yang terjadi di kawasan perkotaan.
Lebih jauh, hasil pemetaan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah dalam merancang kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
“Rekomendasi yang dapat diterapkan antara lain perbaikan sistem drainase dan penguatan struktur jalan di wilayah dengan laju penurunan tanah tertinggi,” pungkas Veva.(rmt)
Editor : Rahmat Adhy Kurniawan